Skip to main content

Lukisan Wanita Terpasung



Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku.

“An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang.

“Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?”

“Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang.

“Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak 
 bakal mau nunggu Ria dandan?”

“Ya, itu lain cerita lagi, An.”

“Sama aja, pakai alasan aku dandan lama. Emang kamu aja yang datang terlalu pagi, paling juga belum sarapan. Nah, tuh kan. Emang di rumahmu kagak ada yang buatin makanan, Lang? Kenapa selalu makan pagi di rumahku. Bikin jatahku berkurang aja,” sahutku kesal sambil mendekati meja makan.

“Biarin mengurangi jatahmu. Kamu udah gendut apalagi masakan Tante Sinta enak,” balas Elang tak kalah sengit.

Kulihat Papa dan Mama tertawa melihat kami berdua adu mulut seperti ini dan bukan hanya kali ini saja melainkan setiap hari. Kami pun pamit setelah menghabisakan sarapan. Seperti biasa, di dalam mobil kami tetap tak mau kalah bicara. Dari membahas dari a hingga z, kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

“Lang, nanti pulang sekolah aku pinjam lappy kamu ya. Punyaku masih dibetulkan. Aku belum bikin tugas.”

“Iya. Aku juga lupa beri tahu kalau kamu dicari ama Mama. Nggak tahu mau ngapain, paling kamu disuruh icipin masakan terbarunya. Kamu ama Mama kompak banget. Herannya kalau ama aku, Mama ngomel mulu. Anaknya tuh siapa sih sebenarnya, kamu atau aku,” gerutu Elang berkepanjangan dan aku hanya tertawa mendengar ocehannya itu.

----------

Sampai di rumah Elang, langsung disambut oleh mama Elang yang sudah menanti kedatangan kami. Elang memang memberi tahu mamanya bila aku akan ke rumah sepulang sekolah.

“Liani sayang. Kamu sudah lama tidak ke rumah? Repot bantu mamamu?" tanya mama Elang memberondong.

Aku tersenyum dan berkata, "Iya, Tante. Mama lagi banyak pesanan, jadi harus bantu-bantu deh. Emang ada apa sih, Tan?”

“Tante punya buku bagus untukmu tapi sekarang kita masuk dulu. Kalian belum makan? Tante masak udang woku ama tumis kangkung kesukaan Elang.”

Aku menurut dan mengikuti Tante Rima masuk ke dalam rumah. Kulihat wajah Elang masam. Pasti ada masalah ama mamanya deh.

“Lang, kamu kenapa pasang muka masam seperti itu? Ada masalah ama mamamu?”

“Ais, Mama tuh … ah, udahlah. Kita masuk dan segera makan biar nggak ngomelin aku,” katanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku mengikuti Elang masuk ke dalam rumah. Setibanya di ruang keluarga, aku mulai gelisah dan merasakan ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerikku. Ini terjadi tidak sekali atau dua kali namun selalu terjadi saat aku datang ke rumah ini. Aku menoleh pada lukisan yang tergantung di dinding. Mata itu … mata itu … ah, mungkin perasaanku saja. Aku pun bergegas ke ruang makan dimana Tante Rima dan Elang sudah menantikanku untuk makan bersama.

“Ma, Kakek mana? Pergi?”

“Kakek tadi sudah makan dulu dan sekarang lagi beristirahat di kamar. Kenapa, Lang?”

“Nggak apa-apa, Ma. Aku kira Kakek pergi karena nggak kelihatan. Biasanya Kakek selalu menunggu 
 Elang pulang dari sekolah,” jelas Elang dan mamanya tersenyum.

----------

“Lang, nggak biasanya ada kata sandi di lappy ini. Emang ada rahasia di dalamnya?”

“Lappy sering dibuka ama Mama. Nggak tahu cari apa. Kata sandinya: wanitaterpasung. Tanpa spasi dan huruf kecil semua.”

“Ha? Apa kata sandinya tadi? Wanita terpasung?” tanyaku takpercaya.

“Kenapa?”

“Kaget aja. Jadi ingat ama lukisan di ruang keluarga, Lang,” ujarku sambil mengingat kejadian tadi.

“Emang aku ambil dari lukisan itu dan kata Kakek ada ceritanya. Kalau kamu perhatikan di sudut kanan bawah, ada tulisan kecil.”

“Emang ada tulisannya? Kok aku nggak lihat sih, Lang?”

“Kamu lihat dari jauh, ya mana kelihatan lagi,” jawab Elang seenaknya dan menarik tanganku dan berjalan keluar ruang belajar menuju ke ruang keluarga.

“Tuh, lihat dari dekat. Kelihatan kan tulisannya. Coba kamu baca deh, An.”

“Raga terperangkap
Jiwa terpasung
Hati terpenjara
Benak terbelenggu
Adakah yang dapat menolong?”

“Kalian lagi apa di depan lukisan itu?”

Suara itu membuat kami terkejut dan melihat ke arah suara, “Kakek! Buat Elang kaget saja.” Kakek tertawa melihat kami berdua terkejut atas kehadirannya.

“Kek, ceritakan tentang lukisan wanita terpasung ini ya.”

“Hmmm, lain kali aja ceritanya.”

“Kakek pelit ah,” kata Elangtak mau kalah dan Kakek tertawa melihat cucu semata wayangnya kesal.

“Baiklah, Kakek akan ceritakan. Lukisan ini dibuat oleh teman Kakek. Wanita di dalam lukisan itu adalah kekasihnya. Karena hubungan mereka tidak disetujui oleh kedua belah pihak maka akhirnya berpisah.

Suatu hari, mereka berencana kabur namun ketahuan. Si wanita tersebut dipasung oleh keluarganya agar tidak dapat melarikan diri. 

Pada akhirnya mereka menikah dengan jodoh yang diatur oleh orang tua. Karena teman Kakek tidak bisa melupakan kekasihnya itu maka dia memutuskan untuk melukiskan wajah wanita yang dicintai.

Sebait puisi dia tulis di bawah sebelah kanan yang mempunyai makna bahwa tak ada orang yang dapat menolong bila hati sudah dimiliki oleh satu orang. 

Teman kakek memberikan lukisan ini sebagai kenang-kenangan sebelum meninggal.”

“Oh begitu ceritanya, Kek. Tragis dan menyedihkan sekali,” kataku.

“Iya. Sekarang, Kakek mau istirahat lagi. Kalian belajar yang betul,” ucap Kakek sambil meninggalkan kami dan masuk ke dalam kamar.

“Iya, Kek. Terima kasih ceritanya," kata Elang tersenyum.

Kami pun kembali ke ruang belajar dan meneruskan membuat tugas sekolah.

----------

Keesokan hari, aku kembali lagi ke rumah Elang—sepulang sekolah—untuk menyelesaikan tugas. Laptopku masih diperbaiki dan belum selesai. Seperti kemarin, aku gelisah saat berada di ruang keluarga. Aku merasa ada memperhatikanku.

Lukisan itu.

Akhirnya aku memberanikan diri utuk menatapnya dan benar, mata itu hidup dan menatapku tajam hingga sampai ke dalam sanubari. Tanpa kusadari, aku menjerit. Elang dan seisi rumah kaget mendengar teriakanku.

“An, ada apa?” tanya Elang.

“Mata itu … mata itu, Lang. Dia … dia … menatapku,” kataku gemetar.

“Kamu jangan bercanda, An. Mata wanita dalam lukisan itu seperti biasanya. Tidak seperti yang kamu katakan.”

“Beneran, Lang. Aku nggak bohong. Tiap kali aku ke rumahmu, mata itu hidup dan selalu mengawasi gerak gerikku.”

Elang terdiam, kulihat dahinya berkerut tanda dia sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkan, aku tak mau mengganggunya.

“Ma, Kakek mana?” tanya Elang tiba-tiba.

“Ada di kamarnya. Kenapa, Nak?”

Elang langsung berjalan menuju kamar Kakek dan membukanya. Tante Rima dan aku mengikuti Elang, kami bertiga melihat kamar kosong. Tak tampak Kakek di dalam kamar, kami mencarinya namun kami tak menemukannya. Tak lama, kami mendengar suara dari arah lemari yang berada sejajar dengan pintu. Kami bertiga bergegas mendekatinya. Elang perlahan membuka pintu lemari dan ….

“KAKEK!”
“AYAH!”

Teriak kami bertiga bersamaan saat melihat ke arah Kakek berdiri di atas bangku sambil melihat ke luar dari sepasang lubang kecil di dinding. Kakek malah tertawa terbahak-bahak melihat kami bertiga.


Surabaya, 16 April 2019


#goresantanganVon


pic from Google

Comments

Popular posts from this blog

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...