Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...
Siang atau malam tak ada bedanya bagiku. Kecelakaan itu telah merenggut sesuatu yang berharga bagi diriku. Kebebasanku untuk melihat yang indah dari dunia ini telah hilang. Sekarang aku merasa hidup sendiri di dalam dunia yang baru. Haruskah menyalahkan orang lain karena keadaanku? Tidak! Semua ini terjadi karena diriku sendiri. “Anna!” “Anni.” Suara lembut itu membuatku tersadar dari mimpi burukku, “kamu kenapa? Mimpi buruk?” “Iya,” jawabku singkat. “Sekarang jam berapa? Sudah malam, ya?” “Masih jam sepuluh pagi, Sayang. Kenapa?” tanyanya dengan penuh kasih sayang. “Nggak apa-apa, Ma.” “Kamu harus banyak istirahat, Ni. Dokter tadi berkata bila kamu tidak boleh banyak gerak dulu karena cederamu agak parah terutama di kaki.” “Iya, Ma,” jawabku singkat dan ingat kembali akan kecelakaan yang menimpaku dan Anna beberapa waktu yang lalu. “Ma, Anna di mana? Dia baik-baik saja?” “Ya, sayang. Anna baik-baik saja,” jawabnya parau. Aku merasakan Mama menjawab dengan menahan tangis. Walau mata in...