Skip to main content

Posts

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...
Recent posts

Keindahan Dalam Kelam

Siang atau malam tak ada bedanya bagiku. Kecelakaan itu telah merenggut sesuatu yang berharga bagi diriku. Kebebasanku untuk melihat yang indah dari dunia ini telah hilang. Sekarang aku merasa hidup sendiri di dalam dunia yang baru. Haruskah menyalahkan orang lain karena keadaanku? Tidak! Semua ini terjadi karena diriku sendiri. “Anna!” “Anni.” Suara lembut itu membuatku tersadar dari mimpi burukku, “kamu kenapa? Mimpi buruk?” “Iya,” jawabku singkat. “Sekarang jam berapa? Sudah malam, ya?” “Masih jam sepuluh pagi, Sayang. Kenapa?” tanyanya dengan penuh kasih sayang. “Nggak apa-apa, Ma.” “Kamu harus banyak istirahat, Ni. Dokter tadi berkata bila kamu tidak boleh banyak gerak dulu karena cederamu agak parah terutama di kaki.” “Iya, Ma,” jawabku singkat dan ingat kembali akan kecelakaan yang menimpaku dan Anna beberapa waktu yang lalu. “Ma, Anna di mana? Dia baik-baik saja?” “Ya, sayang. Anna baik-baik saja,” jawabnya parau. Aku merasakan Mama menjawab dengan menahan tangis. Walau mata in...

Kehangatan Bagai Bintang Berpendar

Saat malam mulai menyapa, hati bergetar rasakan rindu akan dirimu, meresahkan diri. Ke mana aku harus melangkahkan kaki untuk mencarimu agar rasa kangen ini dapat hilang? Engkau telah lama pergi dan takkan pernah kembali lagi. Seperti saat ini, aku sangat merindukanmu dan hanya dapat memandang lukisan wajahmu yang tergantung di dinding kamar. Takdapat lagi mendengar suara atau pelukanmu bahkan canda tawa. Pada akhirnya, air mata luruh berderai sambil kubisikkan namamu, "Lanang." Teringat aku akan hari itu, enam tahun yang lalu, engkau memintaku untuk membaca puisi yang baru saja kau buat untukku. Puisi yang masih kusimpan hingga saat ini. Cerita indah nampak tiada akhir Ceria insan nan tebarkan asa Cinta ibarat nada terdengar adiwarna Engkau menjelaskan bahwa huruf awal dari setiap kata bila digabungkan akan menjadi kata CINTA. Aku memperhatikannya dan memang seperti yang kau katakan. Saat itu juga kauberkata, “Dabak kan.” Aku langsung tertawa terbahak-bahak karena kausalah m...

Pertemuan Dengannya

Bertemu denganmu tanpa sengaja di taman kota saat lembayung senja mulai menyilam. Aku ingat waktu itu buku yang kubawa jatuh dan kamu memungutnya. Itulah perkenalan kita pertama kali. Sejak itu saling menyapa entah melalui pesan singkat, telepon, bahkan bertemu. Banyak hal yang menarik untuk bahan kita bicara. Hampir setiap hari, kamu meluangkan waktu untuk berbicara denganku melalui telepon dan paling tidak selalu ada pesan yang masuk darimu. Perlahan namun pasti, perhatianmu itu menghangatkan hati yang dingin dan membangunkan rasa yang tertidur. Kehadiranmu mengisi lakuna dalam diri. Aku pun mulai merasakan kerinduan saat kita tak bersua. Menantikan suaramu yang menenangkan kegelisahan dalam diri. Mengharapkan satu pesan darimu agar keresahan tak membuai diri. Ah, apa ada rasa suka dalam hati? Entahlah yang pasti aku sungguh senang berteman denganmu apalagi dapat mengobrol apa saja. Saat kita bertemu dan membahas mengenai buku, aku baru mengetahui jika kamu suka membaca.  "Di ru...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...