Skip to main content

Secret Admire





Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil.

“Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga.

“Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia? Ini sudah yang kelima kalinya. Membuat aku penasaran sekali.

Aku pun kembali berjalan mendekati mobilku dengan rasa penarasan yang sangat besar. Kemudian gawaiku bergetar tanda ada pesan masuk. Ah, dari dia lagi.

Tatapan Elang: Hai, Arum! Sudah terima bungaku? Semoga harimu menyenangkan.

Setelah membacanya, aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan masuk ke dalam mobil. Dengan segera aku melaju di jalan raya tanpa membalas pesan dari cowok misterius itu.

----------

“Mina, tunggu aku!” teriakku. Mina berhenti dan langsung membalikkan badan. Dia sahabat dekatku sejak masih menggunakan seragam putih abu-abu bahkan kami sama-sama mengambil jurusan yang sama. Dia pula yang sering menemaniku di rumah bila orang tuaku pergi ke luar negeri.

“Ish, kamu jalan cepat sekali sih, Min,” ucapku sambil mengatur nafas.

“Kamu aja yang nggak bisa jalan cepat,” balasnya sambil tertawa.

“Auwww! Sakit!” jeritnya karena cubitan yang aku daratkan di lengan kiri.

Aku tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Salahnya ngatain aku lelet.”

Mina cemberut dan terus berjalan ke kantin. Aku mengejarnya sambil tetap tertawa. Senang melihat sahabatku seperti begitu.

“Min, bantuin aku ya,” pintaku dan dia masih dengan wajah masam, “nih, kamu baca.” Kusodorkan lima amplop putih dihadapannya.

Begitu melihat, Mina langsung terkejut dan bertanya, “Dari siapa?” Tanpa menunggu aku, dia pun langsung membuka satu per satu amplop di hadapannya.

“Tatapan Elang? Siapa dia, Rum?” tanyanya penasaran. Aku hanya mengangkat bahuku.

“Andai aku tahu, pasti aku tidak bakal minta tolong kamu untuk bantu aku mencari siapa si Tatapan Elang ini.”

“Kamu aja yang nggak tahu kalau punya banyak sekali penggemar rahasia. Bisa-bisa ada fans club-nya deh,” cerocos Mina dan aku bengong. Dia bilang banyak penggemar rahasia? Nih anak emang ceplas-ceplos kalau bicara.

“Kamu itu bisa aja, Min.”

“Ini beneran, Arum. Banyak sekali cowok-cowok yang bertanya ke aku tentang kamu seperti kesukaanmu apa dan sudah punya pacar belum.”

“Ah, udah deh. Pokoknya kamu harus bantu aku ya.”

“Baik, Tuan Putri.” Kami pun tertawa bersama sambil menikmati makanan yang sudah kami pesan tadi.

-----------

Tatapan Elang: Selamat malam, Cantik. Hari ini kamu lagi sibuk ya? Apa kamu pusing dengan tugas dari dosen? Mau saya bantu?

Aku membaca pesan yang dikirim oleh Tatapan Elang. Aku heran dari mana dia tahu bila aku punya tugas. Pasti salah satu dari penggemarku seperti kata Mina kapan hari.

Aku: Kamu siapa sih? Kok tahu kalau aku ada tugas, dari mana?

Tatapan Elang: Kamu nggak perlu tahu siapa saya. Yang pasti saya menyukai kamu. Kamu baca aja buku ini dan tugasmu pasti akan selesai.

Aku: Terima kasih.

Aku melihat gambar buku yang dia berikan. “Ah, aku tahu buku ini,” ucapku dalam hati kegirangan. Besok aku ke perpustakaan untuk meminjamnya. 

----------

Beberapa hari kemudian, aku masih tetap menerima bunga dan surat tapi kali ini ada yang berbeda. Ada sebait puisi yang ditulisnya.

Pesonamu membelenggu diriku
Bahkan merasuk dalam sanubariku
Menumbuhkan rasa yang lama tidur
Kama ini hanya untuk dirimu, Bungaku

Aku lipat kertas itu dan kumasukkan dalam amplop kemudian aku melaju meninggalkan rumah menuju kafe kesukaanku untuk bertemu Mina.

“Mina, nih baca.” Kuberikan amplop itu.

“Wow, romantis sekali nih orang," kata Mina setelah membacanya.

Aku terdiam dan melihat keluar. Tampak mega-mega berarak dan menghalangi sinar matahari. Entah kenapa puisi ini membuat hatiku tersentuh bahkan aku ingin segera mengetahui dirinya.

“Rum, aku sudah mencari tahu, semua penggemarmu itu kebanyakan bukan dari fakultas kita. Ada beberapa sih, sekitar empat orang dan aku sudah memperhatikan mereka semua. Hanya ada satu yang aku curugai. Anto, kakak kelas kita. Nanti aku minta tolong Dimas untuk mencari tahu lebih lagi tentang Anto,” ujar Mina dan aku mengangguk.

“Arum, bagaimana bila kamu janji ketemu aja ama dia? Siapa tahu dia mau memperlihatkan wajahnya,” usul Mina.

Aku pikir ide Mina cukup bagus untuk mengajak dia bertemu. Ya, siapa tahu dia mau. Baiklah nanti aku coba tapi aku harus cari waktu yang tepat.

----------

Kuambil gawai dari atas meja belajar. Aku ragu untuk mengirim pesan kepadanya. Tiba-tiba aku dikejutkan bunyi pesan yang masuk.

Tatapan Elang: Malam, Bungaku. Kau tidak lagi sibuk? Tugasmu sudah selesai kan?

Aku: Malam juga. Sudah selesai. Terima kasih sudah membantuku.

Tatapan Elang: Sama-sama. Senang bisa membantumu.

Aku: Hmmm, apa boleh aku minta satu hal?

Tatapan Elang: Kamu minta apa? Selama saya bisa melakukannya, saya akan kabulkan.

Aku: Bisakah kita bertemu?

Lama sekali aku menanti jawaban darinya namun sia-sia. Dia tidak membalas pertanyaanku itu. Dalam hati ada sedikit rasa kecewa. Siapa dirinya? Kenapa tak mau memperlihatkan wajahnya padaku. Apa buruk rupa dia? Begitu banyak pertanyaan yang mendampar dalam benak yang tak terjawab hingga mataku menutup tanpa kusadari.

----------

Tatapan Elang: Baiklah, saya akan memenuhi permintaanmu. Kita bertemu besok di Kafe Petrichor jam lima sore. Aku akan mengenakan kemeja warna biru dan kacamata. Sampai jumpa besok sore, Bungaku.

Pesan dari Tatapan Elang kubaca di pagi hari ini. Ternyata dia membalasnya tadi malam tapi aku tertidur. Hari ini aku masih tetap menerima bunga darinya.

“Arum!”

Aku segera keluar kamar begitu mendengar teriakan Mina.

“Wei, jangan teriak dong di rumah orang,” ucapku sambil tertawa dan kulihat Mina sudah pasang wajah masam.

“Jangan muka jelek gitu ah, Min. Karena …. karena aku punya kabar gembira.”

“Kabar apa?”

“Nanti sore, dia mengajak bertemu.”

“Apa? Beneran nih?” tanya Mina takpercaya dan aku mengangguk.

“Pasti Anto deh. Kata Dimas, dia naksir berat ama kamu bahkan dia minta tolong Dimas untuk mencari tahu alamat rumah dan nomor ponselmu, Rum,” celoteh Mina.

“Kita lihat sore nanti ya. Aku nggak sabar menanti matahari beranjak ke peraduannya.”

Kami tertawa dan mulai sibuk mengerjakan tugas sambil diselingi dengan senda gurau. Tanpa terasa surya mulai meredup sinarnya. Aku pun bersiap-siap agar tidak terlambat untuk bertemu dengan cowok misterius, si Tatapan Elang. Setelah semua selesai, aku segera berangkat.

Sesampainya di kafe, aku mencari tempat duduk tapi rencana itu kubatalkan. Aku melihat seseorang duduk di dekat jendela kafe sambil menatap kemilau jingga di langit. Aku mengenalnya, sosok yang paling aku benci di kampus. Aku memberi julukan dosen killer walau bisa dibilang dia memiliki wajah sangat tampan dan usia yang masih muda. Yang membuatku terkejut, dia memakai kemeja warna biru dan berkacamata sama seperti pesan si Tatapan Elang. 

Jadi, Tatapan Elang itu …..


Surabaya, 17 April 2019

#goresantanganVon

pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...