Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri.
Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi.
Papa Dwi sering sekali membawaku ke panti asuhan ini dan aku semakin akrab dengan penghuninya. Bahkan seringkali aku ke sana sendiri setelah aku beranjak dewasa dan membantu Ibu Alma, pengurus panti asuhan Pelita Kasih. Aku baru mengetahui bahwa Papa Dwi menjadi donatur tetap bagi panti asuhan ini, karena inilah kenapa aku ingin terus membantu Ibu Alma dan diperbolehkan tinggal di sini.
Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, aku selalu membantu Ibu Alma mengurus makanan bagi anak-anak panti. Begitu pula setelah pulang kuliah, aku membantu mereka dalam pelajaran bahkan bermain dengan mereka. Riang gembira kurasakan di setiap harinya, tiada kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah mungil itulah yang membuat aku merasakan bahagia dan damai berada di tengah-tengah mereka. Walau terkadang aku merindukan papa dan mamaku sendiri.
Di panti ini, ada satu ruang yang diberi nama sel Hashirama oleh anak-anak. Ruang yang digunakan untuk menghukum mereka yang berbuat nakal dan tidak patuh. Aku harus mengakui, Ibu Alma sangat disiplin dan ketat tapi sangat menyayangi mereka semua. Penghuninya memang tidak terlalu banyak agar bisa memperhatikan mereka semua, ini alasan Ibu Alma saat aku menanyakan kenapa tidak banyak menerima anak-anak di panti ini.
----------
Libur semester telah tiba dan aku meminta izin pada Ibu Alma untuk berlibur ke Jakarta. Ya, ini karena kerinduanku pada papa dan mamaku. Bersama anak-anak panti, aku bahagia tapi aku sering sekali merasakan renjana akan mereka. Memang kami sering berhubungan melalui telepon atau video call, tetap saja rasa itu tak mau pergi bahkan semakin besar. Walau aku bukan anak kandung Papa Dwi tapi aku merasakan kasih sayangnya yang berlimpah buat aku. Hari yang kunantikan tiba dan aku sangat gembira dan sedih. Gembira karena aku akan bertemu orang tuaku. Sedih karena harus berpisah lama dengan anak-anak panti dan Ibu Alma.
Setibaku di bandara, aku disambut oleh orang tua yang kurindukan. Aku kira hanya Mama saja yang menjemputku tapi ternyata Papa juga ikut. Sebenarnya orang tuaku pindah ke Jakarta karena Opa ingin Papa meneruskan rumah sakit yang memang sudah diwariskan turun temurun. Sedangkan Papa tidak memaksa aku untuk menjadi dokter, selalu memberi kebebasan untuk memilih apa yang aku suka tapi dengan catatan bisa dipertanggungjawabkan. Itulah kenapa aku sayang pada orang tuaku, tidak memaksakan kehendak mereka tapi memberi arahan dan tentu sangat mengasihiku. Bersyukur aku mempunyai mereka.
“Kita langsung ke rumah sakit, Pak Ri.”
“Kenapa ke sana dulu, Pa? Nggak pulang dulu?”
“Opa sudah kangen sama kamu. Tadi pesan ke Papa untuk bawa kamu bertemu Opa bila kamu sudah tiba di bandara.”
“Oh, begitu. Aku juga kangen Opa.”
Walaupun aku bukan cucu kandung tapi Opa sangat menyayangiku dan tidak membedakan dengan cucu-cucunya yang lain.
----------
Begitu sampai, aku segera turun dan berjalan tergesa-gesa tanpa melihat kanan dan kiri. Pada akhirnya, aku menabrak seorang pria.
“Maaf,” kataku segera.
Dia tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa.” Senyumnya sungguh menawan dan telah memikat hatiku.
“Dokter Angga,” sapa Papa.
Dia menoleh dan tersenyum, “Oh, Dokter Dwi.”
“Lita, kamu ini kalau tergesa-gesa selalu tidak lihat lainnya,” omel Papa dan aku hanya tersenyum. “Maafkan anak saya, Dokter Angga. Oh ya, kenalkan ini Lita, anak saya. Lita, ini Dokter Angga, salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini.”
Kami berjabat tangan dan sambil menyebutkan nama masing-masing. Aku pun segera mohon diri untuk naik ke kantor Opa. Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Opa apalagi Opa sempat menelponku untuk segera naik. Aku melihat Papa masih bebicara dengan dokter Angga. Pasti soal pasien, penyakit, dan manajemen rumah sakit. Membosankan, pikirku sambil menunggu pintu lift yang akan membawaku ke lantai atas.
Begitu pintu lift terbuka, aku segera berjalan cepat menuju kantor Opa tanpa memedulikan yang ada di kiri-kananku.
“Opa!” teriakku begitu membuka pintu kantor. Opa langsung merentangkan tangannya sambil tersenyum melihatku. Aku langsung berhambur ke dalam pelukan Opa.
“Cucu Opa tambah cantik. Bagaimana kuliahmu?”
“Tenang, Opa. Nilaiku pasti bagus. Cucu siapa dulu, dong.”
Kami langsung tertawa bersama.
“Papamu di mana, Lita?”
“Di bawah. Bicara dengan dokter Angga. Kenapa, Opa?”
“Oh, dengan Angga. Kamu sudah kenal dengan anak itu?” Aku menganggukkan kepala dan kulihat Opa tersenyum. Aku mulai curiga dengan senyum Opa. Ada apa ini? Perasaanku tiba-tiba tidak enak.
“Kok Opa senyumnya mencurigakan begitu sih?” tanyaku.
“Opa mau jodohin kamu dengan dokter Angga. Kamu mau kan, Lita?”
“Opa, sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, pakai dijodohin segala. Lita nggak mau.”
Opa langsung tertawa mendengar ucapanku, “Opa hanya berharap kamu menyukainya. Itu saja. Kalau kamu nggak suka, ya nggak apa-apa.”
“Iya, Opa.”
----------
Tak terasa liburan semester sudah hampir selesai. Aku sedih harus berpisah dengan keluargaku, terutama Papa dan Mama juga Angga. Ya, sejak tabrakan itu, aku semakin akrab dengan dokter muda itu. Aku baru tahu bila dia berasal dari Denpasar. Orang tuanya tinggal di sana. Sepertinya dalam hatiku mulai tumbuh rasa suka terhadapnya dan aku tak tahu dari pihaknya
Hari ini kepulanganku ke Denpasar dan yang membuat aku terkejut itu dokter Angga ada di bandara.
“Dokter Angga? Ngapain di sini?” tanyaku dengan wajah keheranan.
“Angga ambil cuti dan akan pulang ke Denpasar, Lita,” jelas Opa.
Aku gembira karena ada teman dalam penerbangan ini. Ternyata Opa dan Papa yang mengatur semua ini sehingga kami bisa berangkat bersama-sama. Kami pun berbicara banyak hal.
“Lita, boleh aku bertanya?”
“Tanya aja, Dok.”
“Kenapa kamu nggak kuliah di Jakarta? Malah memilih tetap di Denpasar dan tinggal di panti asuhan.”
“Aku hanya ingin membantu ibu pengurus panti. Apalagi aku suka dengan anak-anak panti. Aku ingin menolong dengan apa yang aku bisa karena dalam hal materi aku belum mampu banyak membantu.”
“Begitu ya. Keluarga dari mamamu tinggal di Bali juga, kan? Kenapa kamu nggak tinggal bersama mereka?”
“Aku ingin mandiri makanya aku minta izin bu Alma untuk boleh tinggal di panti apalagi aku ingin dekat dengan anak-anak itu.”
“I see. Begitu alasanmu,” ujarnya sambil terenyum. “Kamu sudah punya pacar, Lita?”
Aku hanya menggelengkan kepala, “Kenapa, Dok?”
“Aku ingin kamu jadi pacarku.”
Aku terkejut dengan ucapannya. “Apa? Jadi pacarnya? Apa aku nggak salah dengar?” tanyaku dalam hati.
“Kalau kamu belum bisa beri jawaban, nggak apa-apa. Aku akan menunggu jawabanmu.”
---------
Senja mulai tampak begitu pesawat mendarat di bandara Denpasar, dokter Angga mengantarkanaku ke panti karena tujuan kami searah. Sesampainya di panti, dokter Angga ikut turun bersamaku. Aku melihat di pintu tampak anak-anak panti dan ibu Alma sudah menanti.
“Ibu!” teriaku sambil memeluk bu Alma. Anak-anak panti juga memanggilku dengan gembira dan aku memeluk mereka semua.
“Ibu. Bagaimana kabar, Ibu?” tanya dokter Angga.
“Baik, Nak. Kamu sendiri baik-baik saja, kan?”
“Puji Tuhan, baik-baik semuanya, Bu.”
Aku menoleh melihat bu Alma tersenyum dan memeluk dokter Angga.
Jadi, dokter Angga itu ….
Tampak senja telah lenyap di balik ufuk dan kelam datang menyelimuti
----------
Ketenanganmu bagaikan air laut tak beriak
Keceriaanmu bagai bena berlomba mencapai tepi pantai
Kicauanmu bagai debur ombak menghantam bebatuan
Tingkah lakumu bagai pasir pantai yang lembut
Surabaya, 23 April 2019
#goresantanganVon
pic from pixabay.com

Comments
Post a Comment