Skip to main content

Jalan Yang Kutempuh

 





Saat aku berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, ternyata itu keliru. Ya, aku keliru bahkan sangat keliru. Semuanya tidak baik. Banyak kejadian yang membuatku muak bahkan ingin marah. Tapi aku harus marah kepada siapa? Dirimu? Orang lain? Atau kepada Tuhan? Aku benar-benar tidak tahu kepada siapa aku marah.

Aku muak dengan orang-orang yang mempunyai sikap munafik dan bermuka dua. Apakah dirimu? Atau orang lain? Aku benar-benar tidak tahu karena disekelilingku banyak orang-orang yang munafik dan bermuka dua. Yang menjual omongan demi sesuatu kesenangan yang tiada kekal. Yang merendahkan orang lain hanya demi kebanggaan yang sementara. Aku muak dengan mereka.

Aku benci dengan orang-orang yang berjanji dari mulutnya tapi mengingkari janji yang sudah terucap. Dirimu kah? Atau orang lain? Bukan orang lain tapi dirimu. Ya, dirimu hanya berjanji namun tak pernah menepatinya. Kau hanya berjanji dengan mulutmu dan bukan dengan hatimu. Kau berjanji hanya untuk memuaskan hasrat yang semu bahkan kau pergi setelah kau selesai berpesta pora dan setelah meneguk manisnya anggur. Aku benci sekali.

Aku juga bukan orang suci. Aku juga sama seperti dirimu dan orang lainnya, banyak melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Kesalahan dan dosa terbesar yang aku lakukan tidak dapat aku hapus untuk selamanya. Jejaknya berbekas dan tidak bisa hilang dari dunia ini. Bagaimana caranya untuk melenyapkannya tapi jejak itu tetap ada bahkan berakar kuat.
Namun ada hal yang mengganjal hatiku saat ini. Bagaimana aku menjelaskan banyak hal saat engkau besar nanti. Bagaimana aku menjawab semua pertanyaanmu nantinya. Aku tak tahu dan bingung saat ini. Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa saat ini. Aku bukan sendirian lagi. Ada tanggung jawab yang harus aku pikul.

Inilah buktinya yang tak bisa kulenyapkan dari dunia ini. Semakin aku ingin melenyapkannya semakin aku terpikat olehnya. Bahkan setelah aku melihatnya sendiri dalam gendongan tanganku. Wajah mungil dengan mata yang terpejam seakan belum mau untuk melihat dunia yang kejam ini. Dari mulutnya keluar suara khas yang dapat membuat pecah gendang telinga. Sungguh ini membuatku semakin jatuh hati.

"Maafkan Bunda, anakku sayang. Maafkan Bunda yang tidak bisa mendampingimu lebih lama lagi. Maafkan Bunda meninggalkanmu seorang diri dari dunia ini. Bunda hanya ingin kau bahagia kelak tanpa kau tahu akan asal usulmu. Bunda tidak ingin kamu terluka. Tinggallah di rumah yang hangat dan penuh cinta. Bahagialah engkau, Nak," bisikku sambil mencium keningnya sebelum aku meninggalkan di depan pintu rumah Panti Asuhan itu.

Sungguh aku sudah tak bisa mencari jalan lagi. Hanya ini satu-satunya jalan yang terpikir olehku. Mungkin aku egois tapi ini untuk kebaikannya. Kelak dia pasti akan malu akan kehidupannya. Bagaimana dia dilahirkan dan kenapa ayahnya tak pernah ia jumpai. Bagaimana pandangan orang-orang yang mengetahui kelahirannya itu akan mencibir hina dirinya. Apa aku akan kuat melihatnya menderita seperti itu? Tidak. Aku tidak kuat.

Surabaya, 13 Agustus 2018

#goresantanganVon

Pic : from Google (lupa alamatnya)

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...