Saat aku berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, ternyata itu keliru. Ya, aku keliru bahkan sangat keliru. Semuanya tidak baik. Banyak kejadian yang membuatku muak bahkan ingin marah. Tapi aku harus marah kepada siapa? Dirimu? Orang lain? Atau kepada Tuhan? Aku benar-benar tidak tahu kepada siapa aku marah.
Aku muak dengan orang-orang yang mempunyai sikap munafik dan bermuka dua. Apakah dirimu? Atau orang lain? Aku benar-benar tidak tahu karena disekelilingku banyak orang-orang yang munafik dan bermuka dua. Yang menjual omongan demi sesuatu kesenangan yang tiada kekal. Yang merendahkan orang lain hanya demi kebanggaan yang sementara. Aku muak dengan mereka.
Aku benci dengan orang-orang yang berjanji dari mulutnya tapi mengingkari janji yang sudah terucap. Dirimu kah? Atau orang lain? Bukan orang lain tapi dirimu. Ya, dirimu hanya berjanji namun tak pernah menepatinya. Kau hanya berjanji dengan mulutmu dan bukan dengan hatimu. Kau berjanji hanya untuk memuaskan hasrat yang semu bahkan kau pergi setelah kau selesai berpesta pora dan setelah meneguk manisnya anggur. Aku benci sekali.
Aku juga bukan orang suci. Aku juga sama seperti dirimu dan orang lainnya, banyak melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Kesalahan dan dosa terbesar yang aku lakukan tidak dapat aku hapus untuk selamanya. Jejaknya berbekas dan tidak bisa hilang dari dunia ini. Bagaimana caranya untuk melenyapkannya tapi jejak itu tetap ada bahkan berakar kuat.
Namun ada hal yang mengganjal hatiku saat ini. Bagaimana aku menjelaskan banyak hal saat engkau besar nanti. Bagaimana aku menjawab semua pertanyaanmu nantinya. Aku tak tahu dan bingung saat ini. Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa saat ini. Aku bukan sendirian lagi. Ada tanggung jawab yang harus aku pikul.
Inilah buktinya yang tak bisa kulenyapkan dari dunia ini. Semakin aku ingin melenyapkannya semakin aku terpikat olehnya. Bahkan setelah aku melihatnya sendiri dalam gendongan tanganku. Wajah mungil dengan mata yang terpejam seakan belum mau untuk melihat dunia yang kejam ini. Dari mulutnya keluar suara khas yang dapat membuat pecah gendang telinga. Sungguh ini membuatku semakin jatuh hati.
"Maafkan Bunda, anakku sayang. Maafkan Bunda yang tidak bisa mendampingimu lebih lama lagi. Maafkan Bunda meninggalkanmu seorang diri dari dunia ini. Bunda hanya ingin kau bahagia kelak tanpa kau tahu akan asal usulmu. Bunda tidak ingin kamu terluka. Tinggallah di rumah yang hangat dan penuh cinta. Bahagialah engkau, Nak," bisikku sambil mencium keningnya sebelum aku meninggalkan di depan pintu rumah Panti Asuhan itu.
Sungguh aku sudah tak bisa mencari jalan lagi. Hanya ini satu-satunya jalan yang terpikir olehku. Mungkin aku egois tapi ini untuk kebaikannya. Kelak dia pasti akan malu akan kehidupannya. Bagaimana dia dilahirkan dan kenapa ayahnya tak pernah ia jumpai. Bagaimana pandangan orang-orang yang mengetahui kelahirannya itu akan mencibir hina dirinya. Apa aku akan kuat melihatnya menderita seperti itu? Tidak. Aku tidak kuat.
Surabaya, 13 Agustus 2018
#goresantanganVon
Pic : from Google (lupa alamatnya)

Comments
Post a Comment