Saat malam mulai menyapaku, hati ini terasa bergetar rasakan kerinduan akan dirimu. Meresahkan diri karena aku taktahu ke mana akan pergi obati rasa rindu. Mencari wajah yang tidak pernah kuketahui keberadaan dirimu. Air mata kembali luruh berderai sambil kubisikkan namamu, "Lanang."
Dirimu telah lama pergi dan takakan pernah kembali lagi. Aku ingat saat engkau berkata padaku saat itu. "Jangan pernah engkau menunggu. Jangan pula menangisiku," katamu sambil tersenyum.
Namun, aku takbisa melakukannya. Wajahmu selalu kucari. Pada akhirnya takdapat kutemukan hingga rindu menyiksa dan kubiarkan mati bersama kama. Menyisakan ruangan kosong dalam hati untukmu.
Sudah lima tahun, selama itu pula ruang dalam hatiku kosong dan pintunya tertutup rapat, seakan takmau terbuka kembali. Tapi belakangan ini, kurasakan lakuna itu mulai menghangat bagai bintang yang memancarkan sinarnya. Aku tahu engkau takmungkin mengisinya. Atau mungkin ada sosok lain mulai menggapai tanganku untuk digenggamnya?
Ya, ada seseorang yang menemaniku dengan sabar untuk mencairkan gunung es kesendirian. Sosok yang selalu memberi kekuatan dan semangat untuk kembali bangkit dari ketepurukanku akan kehilanganmu.
"Lanang, aku taktahu bagaimana harus berkata. Dia, teman dekatmu, mulai membangkitkan kembali cinta yang telah lama terkubur di dasar sanubariku. Maafkan aku," ucapku sambil kutatap nisan dihadapan.
Surabaya, 22 Februari 2019
#goresantanganVon
Pic from Google

Comments
Post a Comment