Skip to main content

Kehangatan Bagai Bintang Berpendar (Cerita)




Saat malam mulai menyapaku, hati ini terasa bergetar rasakan kerinduan akan dirimu. Meresahkan diri karena aku taktahu ke mana akan pergi obati rasa rindu. Mencari wajah yang tidak pernah kuketahui keberadaan dirimu. Air mata kembali luruh berderai sambil kubisikkan namamu, "Lanang."

Dirimu telah lama pergi dan takakan pernah kembali lagi. Aku ingat saat engkau berkata padaku saat itu. "Jangan pernah engkau menunggu. Jangan pula menangisiku," katamu sambil tersenyum.

Namun, aku takbisa melakukannya. Wajahmu selalu kucari. Pada akhirnya takdapat kutemukan hingga rindu menyiksa dan kubiarkan mati bersama kama. Menyisakan ruangan kosong dalam hati untukmu.

Sudah lima tahun, selama itu pula ruang dalam hatiku kosong dan pintunya tertutup rapat, seakan takmau terbuka kembali. Tapi belakangan ini, kurasakan lakuna itu mulai menghangat bagai bintang yang memancarkan sinarnya. Aku tahu engkau takmungkin mengisinya. Atau mungkin ada sosok lain mulai menggapai tanganku untuk digenggamnya?

Ya, ada seseorang yang menemaniku dengan sabar untuk mencairkan gunung es kesendirian. Sosok yang selalu memberi kekuatan dan semangat untuk kembali bangkit dari ketepurukanku akan kehilanganmu.

"Lanang, aku taktahu bagaimana harus berkata. Dia, teman dekatmu, mulai membangkitkan kembali cinta yang telah lama terkubur di dasar sanubariku. Maafkan aku," ucapku sambil kutatap nisan dihadapan.

Surabaya, 22 Februari 2019

#goresantanganVon

Pic from Google

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...