Skip to main content

Senja, Hujan, dan Secangkir Kopi (Cerita)


Oleh: Vonny Ambar


Saat senja, aku duduk termenung dekat jendela sambil menatap cakrawala yang tak berwarna jingga. Tampak langit mulai menghitam disertai awan yang berarak. Angin bertiup membuat daun dan ranting meliuk hebat bahkan pohon tumbang terhempas keras.

Ditemani buku dan secangkir kopi pahit, aku menatap tiap tetes tirta yang mulai berjatuhan, yang makin lama makin lebat. Dinginpun mulai datang membelai kulitku hingga menusuk tulangku. Dengan segera aku meminum kopi panas dihadapanku untuk menghangatkan raga.

Hujan di sore hari ini membuatku kembali terkenang pada kenangan tiga tahun yang lalu, akan seseorang yang sangat menyukai hujan. Aku pun ingat kata-katanya saat itu.

"Angga, kamu tahu kenapa aku sangat menyukai hujan?" tanyamu dan aku menggeleng sebagai jawaban.

"Karena dalam hujan aku bisa menari riang gembira tapi juga bisa menangis tanpa diketahui oleh siapa saja."

"Lintang," bisikku tanpa sadar, nama yang masih tersemat dalam sanubari. Sosok yang setia mendampingiku hingga peristiwa malam itu, membuat dia pergi dari sisiku selamanya. Mengingat kejadian itu, aku menyesal karena harus kehilangan orang yang sangat kucintai dan kurindukan selalu. Ah, penyesalan selalu saja tidak pernah datang di awal.

“Apa kabarmu sekarang, Lintang? Aku merindukanmu,” ucapku pelan.

Tebersit dalam kalbu, keinginan untuk menari dalam hujan. Kutinggalkan cangkir yang isinya tinggal setengah itu dan melangkahkan kaki dengan pasti menuju tirai air. Dingin tak kuhiraukan lagi. Aku mulai meliukkan badanku di tengah guyuran hujan, berputar dan berlari hingga beban yang menetap dalam sanubari mulai beranjak pelan seiring bulir air mengalir dari sudut netra.

“Maafkan aku, Lintang. Tidak seharusnya aku menyakitmu terlalu dalam. Memang aku yang bersalah telah mengkhianatimu,” ujarku lirih.

Surabaya, 25 Februari 2019

#goresantanganVon


Pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...