Skip to main content

Cinta Pemuda Korea


Kenangan indah tak mudah dilupakan begitu saja, selalu membekas di dalam diri. Begitulah yang kualami saat ini. Aku belum dapat melupakannya. Boleh dibilang sudah hampir enam bulan sejak peristiwa itu namun belum juga hilang dari ingatanku. Kata orang, diperlukan waktu untuk bisa menyembuhkan hati yang tertoreh sembilu. Bahkan teman dekatku berucap bahwa waktu adalah sahabat terbaik untuk dapat melupakan sosok yang pernah hadir dalam kalbu. Mungkin semua benar. Biarlah waktu yang membantuku untuk dapat melupakannya dan menyembuhkan luka dalam sanubariku ini.
----------
Enam bulan yang lalu
"Lintang!"
Aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku, Angga. Dialah orang yang mengisi lakuna dalam hati dan sangat berarti bagiku.
"Ada apa, Ngga? Kenapa kamu nggak beri kabar dulu kalau mau jemput sih?" tanyaku memberondong sambil tesenyum senang.
“Kita perlu bicara, Lintang.” Raut muka Angga terlihat sangat serius dan melamjutkan, “kita bicara di sana.” Aku mengangguk dan berjalan ke taman kampus tempat aku mengajar.
“Kamu mau bicara apa, Ngga? Serius sekali.”
“Lintang, tentang hubungan kita … eh—,” ucap Angga terbata-bata tapi ia melanjutkan setelah menarik nafas, “bagaimana bila tidak dapat diteruskan?”
Bagai disambar petir di siang hari begitu mendengar perkataan Angga. Kelu lidahku sekarang ini dan hanya terdiam sambil menatap lekatnya.
“Mama tetap pada pendiriannya, Lintang. Takmau mengubahnya sama sekali. Bila kita teruskan maka kita berjalan tanpa restu saat memutuskan membina suatu keluarga. Aku tahu kamu bakal tidak mau. Ini satu-satunya jalan, berpisah.”
“Bagaimana bila aku nggak mau berpisah?” tanyaku dan meneruskan, “Ngga, aku siap akan resiko yang harus kuhadapi. Kita perjuangkan hubungan ini. Kamu mau kan, Ngga?”
“Nggak mungkin, Lintang. Tadi pagi, Mama memberi tahu bahwa aku telah dijodohkan.”
Terkejut mendengar penjelasan Angga.
“Maaf, Lintang. Aku juga baru tahu.”
“Aku nggak percaya, Ngga,” ucapku sambil meneteskan tirta dari sudut netra.
“Sama, Lintang. Aku berusaha untuk mempertahankan tapi Mama tetap pada pendiriannya bahkan sampai menjodohkanku dengan anak temannya. Kamu tahu kan kalau aku takingin berpisah darimu. Aku juga nggak mau durhaka terhadap orang tuaku. Anggap saja aku yang mengkhianatimu.”
“Enggak, Ngga, kamu nggak berkhianat ama aku. Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita. Hanya saja aku—,” ucapku terhenti.
“Mulai sekarang kita jalan sendiri-sendiri dan jaga dirimu baik-baik, Lingga.”
“Kamu juga, Ngga,” ujarku dengan berlinar air mata.
Pertemuan terakhir dengannya dan dua minggu kemudian, aku melihat Angga berjalan bersama seorang cewek, bahagia sekali. Itu membuat hatiku teriris oleh sembilu, sakit sekali. Tanpa sengaja mata kami bertemu, kulihat ada kerinduan di sana tapi ada juga luka yang sangat dalam.
Sejak itu, aku putuskan untuk menerima beasiswa yang diberikan tempat aku mengajar dan secepatnya aku meninggalkan Indonesia.
----------
Di sinilah aku sekarang, di negara yang penyanyinya disukai banyak orang bahkan drama yang dibuat selalu sukses di negara tetangga juga digemari di seluruh dunia. Negara yang mempunyai julukan Negeri Gingseng, Korea Selatan. Sudah enam bulan aku tinggal di sini. Beruntung ada teman-teman yang tinggal dan bahkan ada yang menikah dengan orang Korea. Jadi aku tidak kesulitan untuk mencari tempat tinggal dan pekerjaan paruh waktu selama di sini. Selama tinggal di Seoul, hatiku masih saja belum bisa menghapus satu nama itu.
Setiap senja datang, aku masih merindukan Angga. Untuk tidak memikirkannya terus menerus, aku berusaha mencari kesibukan. Entah berapa lama waktu yang harus kubutuhkan untuk dapat melupakan Angga. Hati ini sepertinya telah membeku, lakuna kurasakan dalam kalbu, dan luka sembilu masih mengalir darah.
Hingga satu hari, aku bertemu dengan dia. Pertemuan yang tidak disengaja itu membuat aku mengenalnya.
“Mianhamnida,” ucapnya sambil membantu mengumpulkan buku-buku yang berserakan di lantai.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia bertanya, “Gwaenchana?”
“Ne. Gamshamnida.”
Aku pun berlalu dan dia tetap berdiri dan menatapku tak berkedip.
“Wait, Lady!’ teriaknya dan itu menghentikan langkahku.
“May I know your name?”
Aku terpana sesaat dan langsung berucap, “Lintang.”
------
Sejak saat itu, dia selalu menungguku di kampus dan makin hari kami semakin akrab. Namanya pun aku tahu beberapa hari setelah tabrakan yang tak disengaja itu. Kwon Binwoo, usianya lebih muda dua tahun dariku dan dia memintaku memanggilnya Binwoo-ya. Aku saja yang tak terbiasa memanggilnya demikian sehingga seringkali aku masih memanggilnya dengan Binwoo-ssi.
“Noona, jangan memanggilku dengan Binwoo-ssi, itu untuk orang yang dihormati atau lebih tua. Sedangkan aku, usianya lebih muda jadi cukup panggil Binwoo-ya. Jangan lupa lagi, Noona.”
“Ya, akan aku ingat terus. Oh ya, kamu mau ajak aku ke mana ini?”
“Rahasia, Noona. Ikut saja,” ujarnya sambil tersenyum dan menggandeng tanganku. Sepanjang jalan, Binwoo selalu membuatku tertawa dengan semua kelucuan yang dia ucapkan.
“Nah, kita sudah sampai, Noona. Ayo kita masuk.” Dengan segera, dia membukakan pintu kafe ini.
OEDIPUS CAFE
Aku tersenyum membaca nama kafe, mengingatkanku akan pelajaran yang pernah aku pelajari, oedipus complex.
“Noona! Ayo masuk.” Aku pun berjalan masuk ke dalam kafe itu. Suasana enak, tenang, ditata apik, dan membuat betah pengunjung. Aku duduk di dekat kaca sehingga aku dapat melihat semburat jingga yang menghiasai angkasa.
“Ini, Noona. Cobalah kue ini dan beri penilaian,” ucapnya sambil menaruh piring berisi kue yang dihias begitu indah. Aku mencobanya. Begitu lezat dan lumer di mulutku.
“Enak sekali. Aku menyukainya.”
“Sungguh?” tanyanya dan aku mengangguk sambil melahap kue di depanku sampai habis.
“Noona. Ini, bacalah.”
“Surya bersinar, menghangatkan
Hujan turun, mendinginkan
Angin berembus, menyejukkan
Bulan bercahaya, menerangi
Kelam datang, menenangkan
Itulah arti dirimu bagiku.”
Aku terpana oleh tulisan yang baru saja kubaca, tak percaya. Apa maksudnya ini?
“Noona, sarangheyo.” Binwoo menatapku dengan penuh kasih sayang dan aku bingung untuk menjawabnya. Tanganku saling bertautan erat dan kakiku mulai bergoyang tanda gelisah.
“Noona, tidak perlu menjawabnya sekarang,” kata Binwoo tanpa memaksaku.
Perasaanku tak menentu. Binwoo memberi arti lain dalam diriku. Lakuna dalam sanubari mulai terisi olehnya. Gunung es pun mulai mencair karena kehadiran dan keceriaannya dalam hidupku. Darah itu berhenti sedikit demi sedikit dan luka pun mulai menutup. Hanya aku belum yakin akan keputusanku. Dia lebih muda dariku, ini alasan aku ragu menerimanya. Haruskah aku menolak atau menerimanya?

Surabaya, 15 April 2019

#goresantanganVon

Pic from Ly Photograph
Catatan:
1. Mianhamnida: maaf (formal)
2. Gwaenchana?: tidak apa-apa?
3. Ne. Gamshamnida; ya. Terima kasih (formal)
4. -ya: digunakan untuk memanggil nama orang yang lebih muda atau yang sudah akrab.
5. -ssi: digunakan untuk orang yang dihormati atau lebih tua
6. Noona: panggilan kakak perempuan dari adik laki-laki.
7. Noona, sarangheyo: Kak, aku cinta kamu

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...