Skip to main content

Kehangatan Bagai Bintang Berpendar



Saat malam mulai menyapa, hati bergetar rasakan rindu akan dirimu, meresahkan diri. Ke mana aku harus melangkahkan kaki untuk mencarimu agar rasa kangen ini dapat hilang? Engkau telah lama pergi dan takkan pernah kembali lagi. Seperti saat ini, aku sangat merindukanmu dan hanya dapat memandang lukisan wajahmu yang tergantung di dinding kamar. Takdapat lagi mendengar suara atau pelukanmu bahkan canda tawa. Pada akhirnya, air mata luruh berderai sambil kubisikkan namamu, "Lanang."

Teringat aku akan hari itu, enam tahun yang lalu, engkau memintaku untuk membaca puisi yang baru saja kau buat untukku. Puisi yang masih kusimpan hingga saat ini.

Cerita indah nampak tiada akhir
Ceria insan nan tebarkan asa
Cinta ibarat nada terdengar adiwarna


Engkau menjelaskan bahwa huruf awal dari setiap kata bila digabungkan akan menjadi kata CINTA. Aku memperhatikannya dan memang seperti yang kau katakan. Saat itu juga kauberkata, “Dabak kan.” Aku langsung tertawa terbahak-bahak karena kausalah mengucapkan kata, yang benar adalah daebak berarti hebat. Begitu menyadari kesalahan itu, engkau pun ikut tertawa bersamaku.

Empat bulan kemudian, dokter memberitahu bahwa ada tumor di otakmu. Menerima sakit dengan keikhlasan, itu yang kaulakukan. Tak pernah terdengarkan keluh kesah keluar dari mulutmu malah lebih sering mengingatkanku akan banyak hal bahkan bersenda gurau dan tiba-tiba engkau berkata padaku sambil tersenyum, "Jangan pernah kamu menangis bila aku pergi. Aku ingin kamu bahagia." Itulah perkataan terakhir yang engkau ucapkan dan setelah itu, kita takpernah bercanda atau berbicara lagi.

Setelah hari itu, engkau tak pernah bangun lagi karena ada pendarahan di otak. Setiap hari aku menemani, berbicara sambil memegang tanganmu walau kutahu pasti bahwa kautak akan menjawab. Kau masih bisa mendengarkan, itu keyakinanku. Bahkan kubacakan buku kesayanganmu atau menceritakan kisah lucu. Takpernah bosan semua itu kulakukan bahkan senang walau hatiku sebenarnya menangis. Hingga pagi itu, datang berita taksedap didengar dan membuatku meneteskan air mata terus menerus. Engkau pergi meninggalkan diriku untuk selamanya.

Tanpa terasa sudah lima tahun sejak kepergianmu untuk bertemu Sang Khalik. Perkataanmu agar aku tak menangis bila kautakada bersamaku masih terngiang namun aku tak bisa melakukan. Dirimu selalu kucari dan tak dapat kutemukan hingga rindu menyiksa dan kubiarkan mati bersama kama. Bahkan ada lakuna dalam diri. Hati pun menjadi beku karena tiada sinar yang hangat menyapa. Pintu kalbu telah tertutup rapat.

Setelah engkau pergi, teman dekatmu selalu berada di sisiku walau sering kutolak dan berbicara sangat kasar padanya. Dia menghadapi dengan sabar. Saat aku bertanya kenapa dia selalu menjagaku dan dia menjawab, “Lanang memintaku untuk menjagamu karena dia tahu waktunya sudah tak lama lagi.” Aku menangis setelah mengetahuinya bahwa engkau tak ingin aku masuk dalam lembah kesedihan yang paling dalam.

Lima tahun berlalu, selama itu pula dia—teman dekatmu—menemani hari-hariku yang hampa tanpa kehadiranmu. Namun belakangan ini, kurasakan hati ini mulai menghangat bagai bintang yang memancarkan sinar di malam yang kelam. Ya, dia telah menggapai tanganku untuk digenggamnya.

Ray—begitu aku memanggilnya—yang selalu menemaniku dengan sabar. Perlahan-lahan gunung es kesendirian itu mencair karena kehangatan hatinya. Lakuna mulai terisi oleh kehadirannya yang selalu memberi kekuatan dan semangat untuk aku melangkah dan bangkit kembali dari keterpurukan karena kehilanganmu.

Saat ini, aku berada di hadapan nisanmu. Aku bercerita banyak hal terutama tentang dia yang telah menyatakan cinta padaku dan berkata, "Lanang, maafkan aku. Dia, teman dekatmu, mulai membangkitkan kembali cinta yang telah lama terkubur di dasar sanubariku. Dia menghangatkan hati yang membeku. Aku tahu kamu ingin aku bahagia dan dia pasti menjagaku dengan baik. Restuilah kami.”


Surabaya, 19 April 2019

#goresantanganVon

pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...