Skip to main content

Keindahan Dalam Kelam


Siang atau malam tak ada bedanya bagiku. Kecelakaan itu telah merenggut sesuatu yang berharga bagi diriku. Kebebasanku untuk melihat yang indah dari dunia ini telah hilang. Sekarang aku merasa hidup sendiri di dalam dunia yang baru. Haruskah menyalahkan orang lain karena keadaanku? Tidak! Semua ini terjadi karena diriku sendiri.
“Anna!”
“Anni.” Suara lembut itu membuatku tersadar dari mimpi burukku, “kamu kenapa? Mimpi buruk?”
“Iya,” jawabku singkat. “Sekarang jam berapa? Sudah malam, ya?”
“Masih jam sepuluh pagi, Sayang. Kenapa?” tanyanya dengan penuh kasih sayang.
“Nggak apa-apa, Ma.”
“Kamu harus banyak istirahat, Ni. Dokter tadi berkata bila kamu tidak boleh banyak gerak dulu karena cederamu agak parah terutama di kaki.”
“Iya, Ma,” jawabku singkat dan ingat kembali akan kecelakaan yang menimpaku dan Anna beberapa waktu yang lalu. “Ma, Anna di mana? Dia baik-baik saja?”
“Ya, sayang. Anna baik-baik saja,” jawabnya parau.
Aku merasakan Mama menjawab dengan menahan tangis. Walau mata ini tak bisa berfungsi seperti dulu lagi namun indera yang lain mulai belajar menjadi mata. Telinga mulai belajar banyak hal seperti mengenal suara dan gerakan. Kaki juga akan menjadi mata saat aku berjalan dimana harus menghafalkan benda-benda apa saja yang ada di dekatku. Tanganku juga akan membantu kaki untuk mengingat apa saja benda yang di sekitarku. Dan saat ini, masih telinga yang mulai belajar karena aku tidak boleh turun dari tempat tidur ini.Ya, karena kakiku masih belum sembuh benar.
Mama masih setia menemaniku dan selalu memberi tahu letak barang-barang di dalam kamar yang kutempati saat ini. Aku bersyukur karena Mama, aku tidak kesulitan mengambil air minum di saat Mama tidak ada. Gelita dan sepi ternyata tidak menakutkan seperti yang dulu kurasakan. Aku mulai melukiskan suasana kamar ini di dalam kegelapan yang melingkupiku. Ya, sekarang aku mulai menikmati dan membangun duniaku sendiri di sana.
----------
Akhirnya aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Kakiku pun sudah sembuh. Di rumah, mama yang menemaniku dan mengajak berkeliling rumah sambil memberi tahu letak ruang yang ada di dalamnya juga benda apa saja yang ada. Sebenarnya aku masih ingat ruang dan benda-benda apa saja di dalam rumah ini tapi aku tahu Mama khawatir aku yang belum terbiasa dalam kondisiku saat ini. Aku bersyukur mempunyai orang tua yang menyayangiku tapi aku merasa ada yang kurang. Aku tak mendegar suara Anna. Di mana dia? Pergikah? Aku belum sempat menanyakan ke Mama dan tanpa sengaja aku mendengar perbincangan mereka.
“Ma, tadi Papa ke Rumah Sakit. Anna masih dalam kondisi koma. Mama belum jenguk hari ini?
“Belum, Pa. Aku nggak tega ninggalin Anni sendirian aku takut dia belum terbiasa dalam kondisinya, Pa.”
“Papa sudah mendapat kabar tentang orang yang menabrak Anna?”
“Polisi masih mencari tapi Papa juga meminta bantuan teman Papa untuk menyelidiki kasus ini, Ma.”
Hatiku merasa tersentuh saat aku mendengar perkataan Mama, merasakan kasih sayangnya padaku. Apalagi sekarang aku bisa merasakan makna dari setiap kata yang diucapkan orang lain saat bersamaku. Oh, ya tadi Papa berkata bila Anna koma? Kenapa bisa? Apa Anna yang mendorongku saat itu? Entahlah, kepalaku mulai sakit bila memaksa mengingat kejadian itu.
----------
“Anni, Mama pergi sebentar ya.”
“Ya, Ma. Mama mau ke Pansos? Berapa lama?”
“Mama nggak ke Pantai Sosro, kan ada Om Adi yang urus hotel. Tadi Tante Rus telepon dan minta Mama ke rumahnya, Cuma sebentar. Kamu kalau perlu apa-apa, minta tolong Bik Yum.”
“Iya, Ma. Hati-hati di jalan.”
Aku tahu Mama tidak pergi ke rumah Tante Rus. Tadi pagi aku mendengar perbincangan orang tuaku. Mama menjenguk Anna di rumah sakit. Aku ingin menjenguk Anna walau aku tak bisa melihatnya tapi aku bisa memegangnya dan bicara padanya.
-----------
Dua minggu sudah aku berada di rumah dan orang tuaku masih merahasiakan keadaan Anna padaku. Aku tahu mereka takingin aku khawatir apalagi dalam kondisiku saat ini. Aku sudah bisa menerima keadaanku saat ini. Dalam kekelaman, aku senang melukiskan apa yang dibicarakan oleh orang-orang di sekitarku. Duaniaku sekarang indah walau dalam kesilaman dan tak kalah anggun dengan dunia yang dulu aku dapat melihatnya langsung. Setiap gambar, aku beri warna dalam benakku dan aku tak merasakan sepi dalam gelap. Hingga saat itu, aku bicara pada Mama akan keinginanku.
“Ma, aku ingin bertemu Anna.”
“Anna pergi, Sayang.”
“Ma, jangan berbohong pada Anni. Tolong, ceritakan yang sebenarnya padaku.”
“Anni, maafkan Papa dan Mama. Bukan maksud untuk membohongimu tapi kami tak ingin keadaanmu bertambah parah.”
“Ma, sekarang aku bisa menerima ini semua. Ceritakan padaku apa yang menimpa Anna.”
“Mama juga kurang tahu kejadian sebenarnya. Apa kamu tidak bisa mengingatnya?” tanya Mama dan aku menggeleng. Mama tersenyum dan membelai rambutku.
“Saat itu, kamu pulang dari kuliah dan entah kenapa kamu mampir ke toko kue langgananmu. Saat keluar, ada seseorang yang sengaja menabrakmu tapi Anna mendorongmu dan dia yang tertabrak. Akhirnya, koma hingga sekarang.”
“Yang menabrak sudah ditangkap, Ma?”
“Sudah beberapa hari yang lalu. Mama dengar, orang itu disuruh seseorang yang katanya saingan bisnis Papa.”
“Oh, begitu, Ma? Syukurlah bila sudah ditangkap. Aku boleh jenguk Anna? Aku kangen dia, Ma,” ucapku merajuk dan Mama mengangguk. Aku langsung berteriak kegirangan. “Terima kasih, Ma.”
----------
Anna sudah sadar dan dipindahkan ke kamar VVIP. Aku gembira karena dia sudah siuman dan aku semakin rajin menjenguknya. Dialah satu-satunya saudaraku dan baru tahu bila dia adalah saudara kembarku beberapa pekan sebelum tabrakan itu terjadi. Kami dipisahkan sejak lahir karena aku sakit-sakitan. Jadi Anna dikirim ke rumah oma di Bandung, sedangkan aku tetap tinggal bersama orang tua di Jakarta. Anna kembali ke rumah karena oma sudah meninggal. Karena itulah, aku sangat gembira karena aku bukan anak tunggal seperti yang kupikirkan selama ini.
“Anna!” teriakku begitu masuk dalam kamarnya.
“Anni, jangan teriak. Ini bukan di rumah,” ujar mama mengingatkanku. Aku tertawa dan kulihat Anna juga tertawa.
“Mama mau ke ruang dokter, mau menanyakan kondisi Anna. Kamu jaga Anna, Ni.” Aku hanya menggangguk kepala danmelihat mama keluar kamar.
“Ni,” panggil Anna dan aku menoleh ke arah suara yang memanggilku.
“Maafkan aku, Ni.”
“Untuk apa? Memangnya kamu salah apa ama aku, Na?” tanyaku bingung.
“Sebenarnya aku merencanakan untuk menyakitimu hari itu tapi tanpa sengaja aku mendengar perbincangan dua orang di kafe, tempat di mana aku bertemu dengan Umar dan teman-teman. Saat itu aku memutuskan untuk mengikuti mereka dan kejadian selanjutnya kamu sudah tahu,” cerita Anna.
“Maafkan aku, Ni. Aku sudah jahat sama kamu. Padahal kamu baik ama aku juga Papa dan Mama. Sebenarnya sebelum aku bertemu dengan teman-teman di kafe, Mama cerita kenapa kita dipisahkan. Begitu aku mendengar ada yang mau mencelakakan kamu, entah kenapa hatiku malah nggak ingin kamu terluka. Maafkan aku, Ni.”
“Na, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu malah menyelamatkanku dan yang menggantikan aku. Aku yang harus berterima kasih. Kamu tahu, aku senang mempunyai saudara. Selama ini, aku kesepian,” ujarku. Kami menangis bersama sambil berpelukan. Tiada yang indah selain cinta antara saudara. Sekalipun kami berjauhan, hati kami dapat merasakan satu dengan yang lainnya.

Kelam tak menakutkan lagi
Sepi tidak membuat diri ini sendiri
Ada kama yang memelukku
Ada rindu yang menemaniku

Surabaya, 22 April 2019

#goresantanganVon

pic from Google

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...