Skip to main content

Kesayuan Sang Musafir


Terhanyut dalam kisah indah menyentuh kalbu. Takdapat berpaling dalam kenangan masa lalu. Sang musafir terus mengembara mencari belahan jiwanya walau dia tahu ada seseorang yang menanti. Takpeduli semua itu, sang musafir tetap melangkah untuk mengisi lakuna dalam hati. Hingga ke ujung dunia, dia terus mencari ... mencari cintanya yang hilang.

Siang yang menyengat dan malam dingin tak dihiraukannya. Mendaki gunung yang tinggi bahkan menyeberangi lautan pun dilakukan demi mencari belahan jiwa --entah berada di mana-- yang sangat dicintainya. Namun, ia tak menemukannya. Asa pun mulai memudar. Kesedihan perlahan melanda diri. Dalam benaknya berkeliaran pikiran yang tidak menyenangkan. Sang musafir pun mulai goyah.

Bagaikan kapal yang terombang-ambing oleh ombak besar di tengah laut yang kelam. Tanpa ada cahaya yang memandu menepi. Tiada pelabuhan untuk bersandar dalam kesedihan yang mendalam. Begitulah keadaan sang musafir saat ini, terlihat dalam wajah tampan nan kuyu. Tiada gairah lagi untuk hidup. Dengan langkah gontai, ia kembali pulang ke rumah yang mana ada seseorang --dengan penuh cinta dan kesabaran-- menantinya.

Sang musafir takpernah tahu betapa seseorang itu --pendamping hidup yang dijodohkan oleh orang tua-- mempunyai cinta yang besar terhadapnya. Mata hati sang musafir telah dibutakan oleh cinta mendalam pada belahan jiwa yang taktahu di mana rimbanya.

Si pendamping tak pernah mengeluh apalagi benci atau marah. Ketulusannya pun terlihat saat merawat sang musafir yang kehilangan akal sehat hingga hampir merenggut nyawanya. Walau sang musafir selalu membentak dan memarahinya, si pendamping senantiasa melayani dengan penuh kasih sayang. Takpernah hilang senyum di wajahnya bahkan dia tidak meninggalkan sang musafir sendiri, selalu berada di samping dengan setia.

Hingga hari yang naas itu datang, kecelakaan yang takbisa dihindari lagi. Membuat si pendamping merenggangkan nyawa bertemu dengan Sang Khalik. Kehilangan mulai dirasakan sang musafir, dia hanya terdiam dan takdapat berbuat apa pun, lunglai tak berdaya. Tiba-tiba lelaki tua menghampirinya dan berkata, "Bacalah ini, Nak." Sang musafir menerima dan mulai membuka lembar demi lembar dari buku itu. Semua yang dia baca mengenai si pendamping hingga terpaku pada satu halaman.

Engkau berjalan sendiri
Aku tetap di sampingmu
Engkau tak memandangku
Aku tetap takmau berpaling darimu
Engkau hanya melihat belahan jiwamu
Aku tetap memandang dan mencintaimu
Karena engkaulah duniaku
dan hidupku


Tetes air mata luruh di pipi sang musafir setelah membacanya. Penyesalan seakan-akan datang menyerbu diri dan menyadari bahwa ada yang mencintainya selama ini namun semua disia-siakan. "Maafkan aku yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu sama sekali dan sibuk dengan cinta lamaku. Kuharap kautahu, sekarang aku merasa sendiri dan terasing bagai hidup di dalam hutan Boliyohuto --jauh dari keramaian-- tanpa ada dirimu di sampingku," ujar sang musafir lirih dengan penyesalan dan kesedihan yang dalam.

Surabaya, 8 April 2019

#goresantanganVon

Pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...