Skip to main content

Mencintaimu Dalam Diam


Dia. Ah, kenapa dia ada di sana? Ini membuat aku tidak berani mendekat karena hati ini akan selalu berdebar saat berada di dekatnya. Mataku juga takdapat berpaling dari wajah tampan itu. Aku takmau sampai salah tingkah bila dekat dengannya.

Memandangnya dari kejauhan sudah kulakukan sejak kutahu dia menyukai Nia, sahabat kami. Sebelumnya, kami selalu bertiga hingga dia bercerita tentang seseorang yang disukai. Waktu itu, aku selalu menahan rasa yang menggelora dalam dada. Semua kulakukan agar aku tetap bisa bersahabat dan takmau dia mengetahui apa yang ada dalam sanubariku. Namun, aku takkuasa meredam api kecemburuan saat mendengarkan dia bicara tentang wanita yang dia sayangi. Pada akhirnya, aku mulai menjauh darinya agar dia bisa lebih dekat dengan Nia.

Aku mengira dengan menjauhi darinya dapat membuat diri ini jadi jauh lebih baik dan tidak tersiksa tetapi itu salah. Bertambah sesak dalam hati hingga takkuat raga ini memikulnya. Hingga, tanpa sengaja aku mendengar dia menceritakan semuanya.
"Ra, kamu ingat hadiah ulang tahunku? Ya, gantungan kunci yang terbuat dari kayu dengan bentuk mobil ini selalu menemaniku ke mana saja. Kamu tahu kenapa? Karena itu sangat berarti buatku, diberikan orang yang terpenting dalam hidupku.
Itulah perkataan terakhirnya yang kudengar saat dia berada di depan nisanku, sebelum aku pergi bersama cahaya putih yang terang.

Ra, kamu orang terpenting dalam hidupku sehingga aku mau menceritakan semuanya. Wanita yang sering kuceritakan itu adalah ibu kandungku. Bukan Nia seperti yang kaukira karena Nia sudah bahagia sekarang bersama mas Harsono, kakak angkatku.
Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu tapi kejadian itu menimpamu. Mungkin sekarang sudah terlambat, Ra. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, Nadira."

Itulah perkataan terakhirnya yang kudengar saat dia berada di depan nisanku, sebelum aku pergi bersama cahaya putih yang terang
Ruang imaji, 9 Juni 2019
#goresantanganvon

Pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...