Dia. Ah, kenapa dia ada di sana? Ini membuat aku tidak berani mendekat karena hati ini akan selalu berdebar saat berada di dekatnya. Mataku juga takdapat berpaling dari wajah tampan itu. Aku takmau sampai salah tingkah bila dekat dengannya.
Memandangnya dari kejauhan sudah kulakukan sejak kutahu dia menyukai Nia, sahabat kami. Sebelumnya, kami selalu bertiga hingga dia bercerita tentang seseorang yang disukai. Waktu itu, aku selalu menahan rasa yang menggelora dalam dada. Semua kulakukan agar aku tetap bisa bersahabat dan takmau dia mengetahui apa yang ada dalam sanubariku. Namun, aku takkuasa meredam api kecemburuan saat mendengarkan dia bicara tentang wanita yang dia sayangi. Pada akhirnya, aku mulai menjauh darinya agar dia bisa lebih dekat dengan Nia.
Aku mengira dengan menjauhi darinya dapat membuat diri ini jadi jauh lebih baik dan tidak tersiksa tetapi itu salah. Bertambah sesak dalam hati hingga takkuat raga ini memikulnya. Hingga, tanpa sengaja aku mendengar dia menceritakan semuanya.
"Ra, kamu ingat hadiah ulang tahunku? Ya, gantungan kunci yang terbuat dari kayu dengan bentuk mobil ini selalu menemaniku ke mana saja. Kamu tahu kenapa? Karena itu sangat berarti buatku, diberikan orang yang terpenting dalam hidupku.
Itulah perkataan terakhirnya yang kudengar saat dia berada di depan nisanku, sebelum aku pergi bersama cahaya putih yang terang.
Ra, kamu orang terpenting dalam hidupku sehingga aku mau menceritakan semuanya. Wanita yang sering kuceritakan itu adalah ibu kandungku. Bukan Nia seperti yang kaukira karena Nia sudah bahagia sekarang bersama mas Harsono, kakak angkatku.
Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu tapi kejadian itu menimpamu. Mungkin sekarang sudah terlambat, Ra. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, Nadira."
Itulah perkataan terakhirnya yang kudengar saat dia berada di depan nisanku, sebelum aku pergi bersama cahaya putih yang terang
Ruang imaji, 9 Juni 2019
#goresantanganvon
Pic from pixabay.com

Comments
Post a Comment