Skip to main content

Pembawa Pesan Ratatoskr


Semburat jingga meninggalkan jejak di batas langit yang mulai menyilam, menampakkan keanggunan yang menggugah rasa dalam kalbu. Rasa yang sempat tertidur lama, rindu.

Kerinduan -- akan sosok nun jauh -- datang saat senja memperlihatkan keindahannya dan selalu menggugah kama dalam sanubari. Tanpa kusadari, aku menggumankan nama yang berdiam dalam ruang hati, "Damar." Aku sangat merindukannya dan senja kali ini --seakan-akan— membawa ingatanku kembali pada empat tahun yang lalu, saat aku memutuskan untuk menjauh darinya.

==========

Empat tahun yang lalu

"Abigail!" Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku, kak Damar.

"Ada apa, Kak?"

"Aku mau minta tolong ke kamu, Bi.”

“Apa, Kak?”

“Tolong berikan surat ini pada Nia, teman satu kelasmu,” ujarnya sambil memberikan amplop berwarna putih dan aku menerimanya.

“Terima kasih, Bi,” ucapnya sambil tersenyum –membuat jantungku berdetak kencang-- dan berjalan menuju ke kelasnya.

Aku terpaku di sini dan memandang surat yang ada di tanganku. Saat ini juga aku ingin menangis tapi aku sadar begitu banyak mata memandang. Pada akhirnya kuputuskan masuk ke dalam kelas dan memberikan surat itu pada Nia.

Sepanjang pelajaran, aku tidak bisa fokus. Dalam benak terdapat kebisingan yang tak terhentikan. Dalam diri ada keresahan yang tiada berakhir. Hati ini mulai terasa sakit bagai digores oleh sembilu. Aku menahan air mata agar takluruh namun tidak bisa dan segera aku meminta izin pada guru untuk ke kamar kecil.

----------

Kak Damar tidak hanya sekali itu memintaku untuk membantunya tapi hampir setiap hari terutama setelah kak Damar lulus, rasanya aku taksanggup lagi. Hati ini semakin hari terasa sakit bahkan sangat dalam luka yang ditorehkan oleh sembilu. Air mataku pun luruh di setiap malam sepi dan tak berdaya karena rasa cinta yang besar terhadapnya.

“Tuhan, kuatkan aku di setiap hari. Aku takmampu menahan sakit oleh goresan pisau tajam ini. Taktahu apa yang harus kulakukan.”

----------

Ujian akhir tak lama lagi dan kak Damar tetap setia mengantar dan menjemput aku setiap hari. Aku sebenarnya sudah berusaha untuk menolak namun dia juga orang tuaku memaksa dengan alasan biar cepat sampai di sekolah dan tidak khawatir akan keselamatanku. Terpaksa aku menurutinya.

Aku pun mulai berpikir bagaimana cara agar hati dan benakku bisa tenang karena keresahan dan kebingungan ini membuatku takbisa fokus dalam mempersiapkan ujian akhir. Hingga pagi itu, aku memberanikan diri untuk bicara dengan papa dan mama.

“Pa, Ma. Abaigail ingin bicara.”

“Ada apa, Bi?’ kata Mama.

“Pa, Ma, Bi ingin meneruskan kuliah di Singapura.” Papa dan mama terkejut, mereka memandangku tidak percaya.

“Kamu sungguhan mau kuliah di sana, Bi? Sudah kamu pikirkan baik-baik?” tanya Papa penuh selidik.

“Sudah, Pa. Sudah aku pikirkan. Beberapa waktu yang lalu, aku mencari informasi di internet dan ternyata jurusan yang aku inginkan ada di Singapura. Jadi, aku putuskan kuliah di sana,” jawabku tegas.

“Baiklah, Bi. Nanti Papa akan mengurus semua yang kamu perlukan di Singapura. Nanti kita bicarakan lagi tentang tanggal keberangkatanmu setelah ujian selesai.”

“Thank you, Pa, Ma,” ucapku dengan riang sambil mengambil tas sekolahku. “Pa, Ma, Bi berangkat ya. Kak Damar sudah menjemput. Bye.”

----------

“Kak Damar. Ini,” ujarku sambil mengulurkan surat yang tadi pagi ia beri. Kak Damar menoleh sambil berkata, “Kenapa belum kamu berikan, Bi?”

“Lebih baik Kakak ketemu dan bicara langsung sama Nia,” jelasku.

“Baiklah, Bi. Aku akan memberikan surat itu langsung ke Nia tapi aku boleh tahu kenapa kamu tidak mau membantuku? Kamu kan teman dekatnya.”

“Kak, sebentar kelulusan dan Nia akan kuliah di Australia. Itu alasan kenapa aku tidak mau membantu. Apalagi aku kan bukan pembawa pesan Ratatoskr, Kak.” Kulihat kak Damar langsung tertawa lebar mendengar kata Ratatoskr karena dia tahu betul kata itu.

“Kamu itu ya, bisa saja,” ucapnya sambil mengacak rambutku dan masih tertawa.

“Kan benar, Kak. Oh ya, mulai besok nggak usah antar dan jemput aku.”

“Kenapa, Bi? Nggak suka kalau aku yang antar dan jemput? Siapa yang antar dan jemput nanti?” tanyanya.

“Suka, Kak tapi aku harus berangkat lebih pagi dan pulang terlambat karena ada tambahan. Jadi aku nggak mau merepotkan Kak Damar, biar sopir papa aja. Kak, aku masuk dulu. Terima kasih,.” kataku sambil membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Ini adalah pertemuanku terakhir dengannya. Setelah itu aku sibuk dengan persiapan ujian hingga aku berangkat ke negeri tetangga. Keberangkatanku tak ada yang mengantar hanya orang tuaku dan adik-adik walau aku tahu mama pasti menceritakan ke kak Damar.

==========

Sekarang, aku menginjakkan kaki di kota ini setelah empat tahun berlalu. Bila tidak ada yang memberitahu bahwa papa sedang dirawat di rumah sakit maka aku takakan kembali. Ada kerinduan mendalam saat aku berada di rumah, kerinduan akan seseorang –entah bagaimana kabarnya sekarang.

“Ma!” teriakku.

“Hai, Abigail! Apa kabarmu?”

“Kak Damar? Sedang apa di sini?” tanyaku terkejut melihat kak Damar keluar dari ruang makan.

“Menunggumu,” jawabnya santai dan aku terkejut mendengarnya.

“Buat apa menungguku,” ujarku ketus sambil melanjutkan ucapanku, ”Mama di mana, Kak?”

“Mama di rumah sakit. Lagi nungguin papa. Ari dan Nia juga di sana.” Lagi-lagi dia menjawab dengan santai dan mulai bicara lagi, “Kita perlu bicara, Bi.” Aku hanya memandangnya dan berpikir apa yang hendak ia bicarakan.

“Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit padaku empat tahun yang lalu, Bi?” tanyanya padaku.

Aku terdiam dan taktahu menjawab apa. Aku pergi untuk menjauh darinya agar tak melihatnya bersama dengan orang yang dicintai. Dia menatapku dan menanti jawaban.

“Cinta ini untukmu
dan hanya aku yang tahu
Biarlah aku menjauh darimu
Membawa rindu dan cinta ini
Agar hati taklagi sakit
oleh sembilu yang tajam”

“Kak, itu bukuku. Dari mana Kak Damar dapatkan?” tanyaku sambil menatap buku di tangannya.

“Kutemukan di mobil,” jawabnya singkat dan melanjutkan ucapannya, “Kamu pasti tidak tahu bahwa kita sudah dijodohkan. Aku baru tahu saat duduk di kelas XI. Mengenai surat untuk Nia itu sebenarnya Roy yang kirim melalui aku karena tidak mau ketahuan orang tuanya dan Nia. Kalau kupikir-pikir, yang jadi pembawa pesan Ratatoskr itu aku dan kamu hanya membantuku aja, Bi." Kami langsung tertawa lepas mendengarnya.

Tiba-tiba dia berkata sambil tersenyum, “I love you, Bi. I know that you love me too."

Tatapan penuh cinta menghujam diri dan tanpa kusadari, aku sudah berada dalam pelukannya yang hangat. Aku pun tersenyum bahagia.

"Kebahagiaan datang bersama warna jingga yang mulai menampakkan keindahannya di ufuk barat."

Surabaya, 9 April 2019

#goresantanganVon

pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...