Skip to main content

Pertemuan Dengannya




Bertemu denganmu tanpa sengaja di taman kota saat lembayung senja mulai menyilam. Aku ingat waktu itu buku yang kubawa jatuh dan kamu memungutnya. Itulah perkenalan kita pertama kali. Sejak itu saling menyapa entah melalui pesan singkat, telepon, bahkan bertemu. Banyak hal yang menarik untuk bahan kita bicara.

Hampir setiap hari, kamu meluangkan waktu untuk berbicara denganku melalui telepon dan paling tidak selalu ada pesan yang masuk darimu. Perlahan namun pasti, perhatianmu itu menghangatkan hati yang dingin dan membangunkan rasa yang tertidur. Kehadiranmu mengisi lakuna dalam diri.

Aku pun mulai merasakan kerinduan saat kita tak bersua. Menantikan suaramu yang menenangkan kegelisahan dalam diri. Mengharapkan satu pesan darimu agar keresahan tak membuai diri. Ah, apa ada rasa suka dalam hati? Entahlah yang pasti aku sungguh senang berteman denganmu apalagi dapat mengobrol apa saja.

Saat kita bertemu dan membahas mengenai buku, aku baru mengetahui jika kamu suka membaca. 

"Di rumah banyak sekali buku, Lita. Kakakku suka sekali membeli buku walau kadang dia tak membaca semuanya karena itu aku melahap semuanya."

Ceritamu mengenai kakakmu yang tsundoku. Aku pun bertanya padamu kenapa tidak membuat perpustakaan kecil bila mempunyai banyak buku sehingga bisa membantu anak-anak atau teman-teman yang ada di sekitar tempat tinggal.

"Ide bagus itu, Lita. Nanti aku bicarakan pada kakakku. Semoga dia mau. Terima kasih, Lita."

Itulah yang kamu ucap saat menanggapi buah pikirku dengan antusias. Kemudian kamu memberiku sebait puisi.

Engkau adalah buku yang hangat
Banyak cerita tertuang di sana
Setiap kali membacamu
Ada cerita baru ditulis di sana
Menggugah lubuk hati terdalam
Menyebarkan kehangatan dan keceriaan
Takpernah kubosan membacamu

Aku menyukai puisimu itu. Seperti itulah kamu memandangku. Bagai buku yang penuh kehangatan dimana setiap hari selalu ada cerita baru, begitu katamu tentang puisi itu. Sungguh tersanjung diriku dan ada kebahagian tersendiri.

Beberapa hari setelah pertemuan kita itu, aku mengunjungi taman kota dan melihatmu. Sepertinya kamu bersama teman-temanmu. Kamu melihatku namum tak menyapa walau aku tersenyum padamu. Kamu tak berpaling saat kupanggil.

Malam harinya aku bertanya apa kegiatanmu hari ini melalui pesan singkat dan kamu membalas bahwa seharian ada kuliah. Aku menjadi bingung. Siapa cowok yang ada di taman itu? Pada akhirnya, kamu menelponku dan berkata bahwa kamu ingin sekali memperkenalkan seseorang padaku.

Hari yang kutunggu pun datang. Aku bersiap untuk menyambut kamu. Dalam hati aku bertanya siapakah yang akan dikenalkan. Saat terdengar bel rumah berbunyi maka aku segera keluar menyambutnya. Apa yang kulihat membuatku terperangah. Aku masih takpercaya dengan yang kupandang hingga kamu menegur dan memperkenalkan seseorang. Ternyata dia adalah kakakmu yang tsundoku itu. Seketika itu aku ingat bahwa yang kulihat di taman kota adalah kakakmu. Saat itu aku belum mengetahui karena wajah kalian sama dan sekarang aku tahu perbedaan kalian. Jadi tak mungkin aku keliru mengenali kalian lagi.


Surabaya, 18 April 2019

#goresantanganVon

pic from pixabay.com

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...