Skip to main content

Pria Misterius

 



Lesap tak berbentuk
Hirap bersama bayu
Semua tampak semu
Dan ilusi kembali datang


Aku terbangun saat semua masih terlelap. Kokok ayam tak terdengar. Fajar belum juga memancarkan sinar merah keemasan. Aku berjalan keluar rumah dan duduk di kursi depan jendela ditemani angin dingin yang berembus membelai kulitku dan tetes-tetes embun jatuh pada dedaunan. Dersik terdengar bagai nyanyian di tengah kesunyian. Aku menatap jauh ke depan dan terlihat hanyalah kelam, sekelam pikiranku sekarang.

Keberadaanku saat ini jauh dari kota kelahiranku. Mungkin bisa dikatakan aku melarikan diri dari rutinitasku tapi sejujurnya aku menjauh darinya, dari seseorang yang terus meneror hatiku. Kami sudah lama tidak berhubungan, entah kenapa dia bisa menemukanku setelah bertahun-tahun. Aku enggan bertemu dengannya ataupun berbicara. Bertemu dengannya kembali sama saja membuka luka lama yang hampir sembuh.

“Aku ingin kita bersama lagi, Eka.” Itu kalimat yang kuingat waktu bertemu dengannya sebelum pergi meninggalkan kota kelahiranku. Sungguh, ketenanganku terusik dengan kehadirannya dalam hidupku lagi. Entah bagaimana aku harus bersikap.

Dengan menjauh sejenak, aku mengatur kembali kehidupanku terutama ketenangan hati dan pikiranku. Di sinilah aku, di rumah kakak sepupuku yang tinggal di Riau tepatnya di desa Kelesa. Di sini terdapat air terjun yang indah, namanya Air Terjun Aseng Siambul. Aku sering ke sana sekedar duduk di gazebo untuk menenangkan pikiran atau membaca novel bahkan aku sering membawa laptopku menulis puisi. Ide-ide segar kudapatkan di sini dengan melihat keindahan alam dan gemercik yang terdengar membuat hati riang gembira.

Hingga suatu hari, aku asyik menulis di sana hingga lupa waktu. Hari mulai menyilam, aku bergegas berkemas dan berjalan pulang. Kadang aku berlari kecil agar bisa segera sampai di rumah tapi tanpa sengaja kakiku terantuk batu dan kepalaku membentur keras tanah kemudian yang kuingat adalah kegelapan di sekitarku.

Saat tersadar, aku melihat sekelilingku. Entah ini bermimpi atau tidak, aku berada di dalam gua yang indah. Aku mulai bertanya dalam hati siapa yang telah menolongku karena saat itu tidak ada satu orang pun di sana. Pertanyaanku terjawab dengan munculnya seorang pria dari sebelahku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku tertegun melihatnya, wajahnya tampan dengan badan tegap.

Karena aku baik-baik saja, pria misterius itu mengantarku pulang. Dalam perjalanan, dia memintaku untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentang gua dan dirinya. Saat aku bertanya kenapa, dia tersenyum dan tidak menjawab.

Keesokan hari, aku kembali lagi ke sana namun tidak bertemu dengan pria tersebut. Hari-hari selanjutnya aku juga datang ke air terjun hingga malam tiba tapi tak kutemukan pria tersebut. Setiap kali aku pulang dari air terjun, aku merasa ada yang mengikutiku tapi tidak berbuat apa-apa. Hanya melihat dari jauh, seakan-akan menjagaku hingga sampai di rumah. Jujur, aku merasa aneh dengan diriku yang ingin terus menerus bertemu dengannya. Siapa sebenarnya pria misterius itu?

Dari cerita orang-orang desa Kelesa, bahwa ada seorang cowok yang meninggal di air terjun itu dan tubuhnya tidak ditemukan hingga sekarang. Mereka bercerita bahwa wajahnya tampan dengan hidung mancung, tingginya sekitar 170 cm, dan ada bekas luka di pipinya. Saat mendengarnya, aku terkejut karena pria misterius yang kutemui itu mempunyai ciri yang sama. Ada bekas luka samar di pipi sebelah kiri. Langsung bulu kudukku berdiri tapi aku tidak takut sama sekali.

Aneh, aku malah ingin bertemu dengannya. Namun sayang, aku harus pulang, kembali ke kota kelahiranku. Sebelum pulang, aku sudah menaruh surat di bangku yang sering aku duduki. Kutahu pasti dia akan membacanya. Setibanya di Jakarta, aku takdapat melupakannya. Wajahnya takmau lesap dari benakku dan merasakan kerinduan yang besar terhadapnya. Entah kapan aku bisa kembali ke sana dan bertemu dengannya.

Surabaya, 12 April 2019

#goresantanganVon

pic from Google

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...