Skip to main content

Sahabat dan Cintaku


Arunika terlihat di ufuk timur
Rona merah keemasan terbentang indah
Memukau mata yang memandang


Sebait puisi yang kautulis untukku saat tahu aku menyukai warna matahari terbit. Kamu adalah sahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar walau usia terpaut dua tahun. Kita berkenalan saat dihukum oleh guru karena kenakalan kita. Sejak saat itu kita selalu bersama, di mana ada Arni pasti di situ ada Aldi bahkan sekolah pun memilih yang sama. Bagai perangko dan amplop, itu julukan kita berdua. Tanpa terasa waktu terus bergulir cepat dan kita sekarang terpisah jarak. Ya, kamu memutuskan kuliah di kota lain sedangkan aku masih di sini menyelesaikan sekolah yang sebentar lagi selesai. Banyak cerita dan kenangan saat bersama.

Aku masih ingat saat baru melepas seragam putih biru dan menggantikan dengan putih abu-abu. Di hari pertama, kamu menjemputku untuk berangkat bersama. Sesampainya di sekolah, banyak temanmu mengira aku adikmu. Seperti biasa, kita hanya tersenyum tanpa menjelaskan apa-apa. Setelah itu, banyak sekali cewek-cewek yang menitipkan surat padaku untukmu bahkan teman-teman sekelasku juga. Ah, kamu sangat terkenal di sekolah. Selain berotak encer, kamu termasuk cowok yang disukai banyak cewek. Harus kuakui, wajahmu tampan dengan hidung mancung, netra berwarna biru tua, dan senyum menawan ditambah lesung pipit di kedua pipi membuat semua cewek akan melirik dan menaruh hati padamu.

Sebenarnya aku sangat senang bila bersamamu, merasa dilindungi bahkan dari cowok-cowok yang berusaha mendekatiku karena kamu tahu bila aku takmau berhubungan dengan yang namanya cinta. Pernah satu kali kamu marah melihat cewek-cewek mengolok dan mengganggu aku, kamu bahkan berkata dengan keras, “Apa dia mengganggu kalian hingga kalian mengganggu dia? Apa dia pernah bergosip dan berkata jelek tentang kalian? Yang saya tahu kalianlah yang sering menggosipkan dan menjelekkan dia. Mulai sekarang, bila ada yang mengganggu dia maka akan berurusan denga saya.” Senangnya dibela seperti itu olehmu.

Aku tahu mereka iri karena aku dekat denganmu, sedangkan kamu tak menganggap mereka sama sekali. Kali ini aku jengkel dan marah padamu. Aku bertanya kepadamu kenapa tidak memilih salah satu dari mereka bahkan semua surat yang kuberikan tidak kamu baca satu pun. Kamu tersenyum saat aku bertanya seperti itu dan aku ingat kamu berucap, “Kamu tahu bila aku juga takmau berurusan dengan yang namanya cinta sebelum aku lulus. Apalagi ada seseorang yang aku suka.” Ternyata hatimu sudah terisi satu nama dan saat aku bertanya siapa cewek itu, kamu hanya tersenyum dan berucap kalau itu rahasianya.

Sejak kejadian kamu marah, tidak banyak yang menggangguku bahkan cowok-cowok yang katanya naksir aku. Kamu mulai disibukkan dengan persiapan ujian kelulusan dan kita jarang bersua. Apalagi setelah kamu lulus dan memutuskan untuk kuliah di Bandung. Walau demikian kamu masih menyempatkan pulang ke Jakarta dan bertemu denganku. Banyak cerita yang keluar dari mulutmu yang paling aku ingat itu cerita tentang ketopong bertanduk yang diadakan senat mahasiswa di fakultasmu. Saat itu aku langsung berkata apa topinya itu bertanduk seperti rusa dan kamu tertawa sambil mengacak rambutku. Kamu menjelaskan bahwa ketopong bertanduk adalah topi kekuasaan, jadi kandidat yang berhasil dalam tantangan dan mendapatkan suara terbanyak maka yang mendapat ketopong bertanduk atau pemimpin. Dengan bangga, kamu mengatakan bahwa kamu yang terpilih menjadi ketua senat mahasiswa.

Sungguh bahagia bersamamu dan mendengar semua celotehanmu tentang kuliah, teman, dan kegiatanmu yang segunung itu. Tak lupa pula kau bercerita tentang bagaimana cewek-cewek mengejar dan menyatakan perasaan mereka padamu. Ah, untuk apa pula kamu menceritakan tentang semua cewek itu kepadaku. Apa aku cemburu? Tidak! Tapi, aku merasakan ada lakuna dalam kalbuku saat kamu takada di sisiku. Aku juga merasa senang bila dirimu tiba-tiba menelponku atau ada di hadapanku. Apa itu disebut rindu? Apa aku jatuh hati pada sahabatku sendiri? Entahlah, aku taktahu.

Semburat jingga nan indah mulai terlihat di ufuk barat bersama hirapnya sang surya. Aku tertegun oleh kehadiranmu. Kamu memberi kejutan karena aku telah berhasil lulus dengan nilai tertinggi. So sweet sekali kamu. Aku suka dan bahagia. Di saat seperti ini kamu memberitahu rahasia yang kamu simpan selama ini, tentang cewek yang kamu suka. Entah kenapa hatiku terasa sakit dan takut kehilangan dirimu. Aku memohon dalam hati agar kamu tidak menceritakan tentang cewek yang kaucintai. “I love you, Arni.” Kalimat itu terucap dari bibirmu dan membuatku terpana, tak percaya. Tanpa kusadari, dirimu mendekat dan memandangku penuh kasih, menantikan jawabanku. Aku hanya bisa mengangguk. Kulihat kautersenyum dan mencium keningku. Sekarang aku menyadari semua yang kaulakukan itu demi aku, untuk menjaga dan melindungiku. Sungguh membahagiakan, kamu adalah sahabat dan cintaku.

Surabaya, 11 April 2019

#goresantanganVon

pic from: Google

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...