Skip to main content

Senja Bersama Bunda



Satu hari kala senja mulai mengintip di balik cakrawala. Anak remaja menghampiri wanita tua yang sedang membaca di teras dan bertanya, "Bunda, bagaimana aku harus menjalani hidup ini?" Wanita yang dipanggil Bunda itu tampak terpana atas pertanyaannya dan tak menyangka si anak sudah mulai beranjak dewasa.

Sejenak sang bunda terdiam merenungkan pertanyaan itu dan ditatapnya netra biru di hadapannya sambil berucap, "Nak, berjalanlah terus ke depan. Jangan engkau berbalik dan berlari ke masa lalu, lepaskanlah." Anak itu mendengarkan, kemudian terdiam untuk merenungkan perkataan bundanya.

Setelah itu dia bertanya lagi, "Apa yang harus kulakukan bila masalah datang menghadang, Bunda?"

Wanita itu menghela napas sejenak dan tersenyum menatap wajah tampan dihadapannya.

"Anakku, saat engkau berjalan dan menghadapi masalah. Berhentilah! Ambil satu atau dua langkah ke belakang dan merenung. Setelah itu, melangkahlah dengan membawa sebuah jawaban yang pasti."

Mendengar jawaban dari sang Bunda, dia hanya mengangguk-anggukkan kepala, tanda mulai memahami kata-kata tersebut. "Tapi, Bunda, kenapa aku harus mengambil satu atau dua langkah ke belakang?" tanyanya. Bunda tersenyum sambil melihat wajah Dani, anaknya.

"Karena dengan mengambil beberapa langkah mundur maka kamu bisa melihat masalah yang dihadapi bukan dari sisi dirimu melainkan orang lain. Dari situlah kamu akan menemukan banyak pertanyaan dan jawaban dari masalah yang sedang kamu hadapi, Nak."

Setelah mendengarkan jawaban dari wanita yang disayangi, Dani memandang lurus ke depan. Wajahnya terlihat serius, memikirkan semua perkataan sang Bunda dan berkata, "Bunda, dengan demikian aku dapat melihat satu masalah dari banyak sudut. Pada akhirnya aku bisa menemukan jawaban yang baik."

"Ya, Sayang," jawab Bunda tanpa mengalihkan pandangan dari anaknya.

"Tapi, aku takut bila salah melangkah dan tak bisa mengambil jawaban yang benar, Bunda."

Bunda memandang penuh kasih dan berucap, "Dani sayang, jangan pernah takut. Berdoalah dan jangan pernah putus melakukannya. Biarlah Dia yang akan pimpin di setiap langkah kehidupanmu, Sayang. Satu hal lagi, Nak, percaya dan bersyukurlah karena semua akan indah pada waktunya."

Raut muka Dani berubah berseri-seri dan senyum merekah dari bibir saat mendengarkan nasehat Bunda tercinta.

"Karena Bunda, aku mengenal dunia ini. Bunda mengajarkan banyak hal dan tak lelah menjawab semua pertanyaan. Tidak capai mendengarkan keluh kesah. Doamu selalu menyertai langkahku. Terima kasih, Bunda. Dani sayang Bunda," ujarnya sambil memeluk Bunda.


Surabaya, 22 Desember 2018

#goresantanganvon

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...