Skip to main content

Senja, Hujan, dan Secangkir Kopi

 



Aku duduk termenung dekat jendela kaca di kafe yang penuh kenangan ini sambil menatap cakrawala yang tak berwarna jingga. Tampak langit mulai menghitam disertai awan-awan yang berarak. Angin bertiup membuat daun dan ranting meliuk hebat bahkan pohon tumbang terhempas keras.

Ditemani buku dan secangkir kopi panas, aku menatap tiap tetes tirta yang mulai berjatuhan, makin lama makin lebat. Dingin pun mulai datang membelai kulit hingga menusuk tulangku. Dengan segera aku meminum kopi dihadapanku untuk menghangatkan raga nanum sia-sia, dingin masih menyelimutiku.

Hujan di sore ini membuatku kembali terkenang pada kenangan tiga tahun yang lalu, akan seseorang yang sangat menyukai hujan. Aku pun ingat yang diucapkannya saat itu. "Lintang," bisikku tanpa sadar, nama yang masih tersemat dalam sanubari. Dia sosok yang setia mendampingiku hingga peristiwa malam itu, membuat dia pergi dari sisiku selamanya. Mungkin aku menyesal karena kehilangan orang yang kucintai bahkan menyakitinya namun ada alasan kenapa aku melakukannya. Alasan yang mungkin tidak akan masuk akal.

==========

Tiga tahun yang lalu

Rinai mulai membasahi butala saat kami duduk dekat jendela di dalam kafe Petrichor menanti makanan yang sudah dipesan. Kulihat Lintang asyik melihat tetes-tetes air yang jatuh ke bumi.

"Angga, kamu tahu kenapa aku sangat menyukai hujan?" tanyamu dan aku menggeleng.

"Karena dalam hujan aku bisa menari riang gembira juga bisa menangis tanpa diketahui oleh siapa pun."

“Itu sebabnya kamu menyukai kafe ini.”

“Ya, itu salah satunya. Alasan lain, aku suka makanan dan kopi yang khas di Petrichor,” jawabnya sambil tersenyum.

Senyum yang selalu membuat jantung ini berdetak kencang dan membuatku terperangkap dalam pesonanya.

----------

“Angga, kamu ada waktu sekarang?” tanya Mama dengan mimik serius dan melanjutkan perkataannya, “Mama ingin bicara denganmu.”

“Mama mau bicara apa sih? Kok serius sekali,” ucapku sambil bercanda tapi Mama malah memasang wajah tak suka.

“Tentang Lintang!”

“Memangnya ada apa dengan Lintang, Ma?”

“Putuskan hubunganmu dengan Lintang.”

Bagai disambar petir di siang bolong mendengar ucapan Mama. Aku takpercaya dan bertanya, “Apa, Ma? Mama ingin aku putus dengan Lintang? Kenapa, Ma?”

“Karena dia berbeda dengan kita, Angga. Kamu akan mendapatkan banyak masalah dari keluarganya bila kamu tetap ngotot bersama apalagi kamu sampai memutuskan menikah. Kamu harus tahu bahwa Mama tidak akan memberi restu sampai kapan pun. Ingat itu, Ngga!”

Aku tertegun mendengar perkataan Mama. Kemarin malam, orang tua Lintang sudah bertanya padaku mengenai kelanjutan hubunganku dengan Lintang. Sekarang, orang tuaku menginginkan aku berpisah darinya. Benang kusut ada dalam benakku saat ini dan harus segera diurai untuk mendapatkan jawaban sehingga masalah ini dapat diselesaikan.

----------

“Sudah lama menungguku, Ngga?” tanya Lintang begitu melihatku sudah berada dalam kafe Petrichor.

“Baru datang juga, Lin. Aku sudah pesankan makanan kesukaanmu.”

“Angga, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa sikap mamamu terhadapku berubah sekali belakangan ini?” tanya Lintang dan aku terdiam.

Perkataan Mama bukan hanya bualan semata. Sikap ketidaksukaan Mama diperlihatkan langsung pada Lintang setiap waktu mereka bertemu. Membuat Lintang merasa ada yang aneh dan bertanya padaku saat ini. Aku tak dapat menutupi semuanya dengan berbohong karena dia sudah mengetahui bagaimana sikap orang tuaku—terutama mamaku—kepadanya.

“Beberapa hari yang lalu, Mama bicara padaku tentang kita. Mama ingin kita putus. Aku sendiri bingung kenapa Mama menginginkan kita pisah, “ jelasku dengan perlahan sambil melihat wajah Lintang yang terkejut setelah mendengar ceritaku.

“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Lintang lirih dan tebersit kesedihan. Aku tahu hatinya pasti sakit bagai tertusuk sembilu dan takmau berpisah, seperti hatiku saat ini.

“Aku belum tahu, Lintang. Aku berusaha agar Mama bisa mengubah pendiriannya. Entah bisa atau tidak karena aku tahu betul bagaimana sifat Mama.”

“Bagaimana kalau mamamu tetap dengan pendiriannya? Apa kita harus berpisah?”

“Apa kamu mau kita bersama tanpa restu dari mamaku?” tanyaku.

“Tidak!”

“Bila begitu, tidak ada jalan lain. Kita harus berpisah tapi untuk saat ini lebih baik kita berusaha meyakinkan mamaku, Lintang,” ucapku untuk menenangkannya.

“Sekarang kita makan, ya. Kamu harus tenang dan jangan berpikiran yang jelek,” ujarku sambil menggenggam tangannya.

----------

“Ma, Angga mohon untuk merestui hubungan kami,” pintaku.

“Angga!” bentak Mama.
“Kamu harus tahu, Mama tidak akan mengubah apapun juga. Mama ingin kalian berpisah secepatnya. Jika kamu tidak melakukannya, Mama akan bertemu dengan Lintang sendiri. Mama akan minta dia menjauhi kamu,” ucap Mama penuh dengan kemarahan.

Mendengar ancaman Mama membuat pikiran dan hati ini bertambah kalut. Bayang-bayang perpisahan sudah di depan mata. Aku merasa saat ini langit runtuh dan bumi bergetar hebat. Ada darah mengalir dari kalbu karena sembilu menancap sangat dalam. Kehampaan mulai menyelimutiku. Haruskah aku berpisah dengannnya? Bila kulanjutakan tanpa restu orang tuaku maka Lintang akan menolak. Baginya, restu orang tua adalah berkat untuk membina suatu hubungan terutama dalam membangun keluarga baru. Namun, aku berpikir bila diteruskan maka Lintang juga yang akan menjadi korban terutama jiwa dan perasaannya karena sikap keluargaku.

-----

“Kak Anna,” panggilku dan wanita yang duduk di belakang meja itu mengangkat wajahnya sambil tersenyum.

“Angga. Ayo masuk. Duduk sini,” ucapnya lembut. “Kamu ada apa ke kantor Kakak? Pasti ada perlu deh.”

“Iya, Kak. Angga mau minta tolong. Kak, aku mau minta tolong … itu--,” ucapku terbata-bata.

“Kenapa? Kok bingung gitu? Apa masalah dengan mamamu?” Aku terkejut karena Kak Anna sudah tahu masalah Mama dan aku.

“Iya, Kak. Aku mau minta tolong ama Kakak karena Lintang belum kenal dengan Kakak. Aku mau minta tolong untuk berpura-pura jadi pacarku.”

“Ha?”

“Sebenarnya kami sudah putus beberapa hari yang lalu, Kak. Untuk meyakinkan dia, aku melakukan hal ini. Biarlah dia berpikir aku yang mengkhianati hubungan kami.”

“APA? Kenapa kamu melakukan hal itu. Kamu harusnya mempertahankan cinta kalian bukannya malah melukai begini, Angga.”

“Kak, aku punya alasan kenapa aku melakukan ini. Aku nggak mau Lintang bertambah terluka parah dan akan mempengaruhi jiwanya. Aku ingin dia bahagia tanpa ada penderitaan yang ditambahkan dari sikap keluargaku, Kak.”

“Angga ….”

“Kakak mau bantu aku kan? Agar aku benar-benar bisa melepaskan Lintang.”

“Baiklah, Kakak bantu kamu.”

“Terima kasih, Kak.”

Setelah pertemuan itu, aku mulai lebih sering pergi bersama Kak Anna hingga tanpa sengaja bertemu dengan Lintang. Aku melihat dari sorot matanya, ada luka teramat dalam dan aku pun demikian. Itulah pertemuanku terakhir dengan Lintang, wanita yang amat kucintai.

==========

Nyanyian rindu terdengar indah
Saat tetes-tetes tirta menyentuh bentala
Namun, tidak dengan hatiku
Yang merindukan engkau


Kututup buku bersampul merah itu setelah menggoreskan sebait puisi untuknya dan dari kaca jendela, aku melihat hujan masih turun membasahi tanah. Tebersit dalam kalbu untuk menari dalam hujan. Aku berdiri meninggalkan buku dan secangkir kopi di meja kemudian melangkah dengan pasti menuju tirai tirta. Dingin tak kuhiraukan lagi. Aku mulai meliukkan badanku di tengah guyuran hujan, berputar dan berlari hingga beban yang menetap dalam sanubari mulai beranjak pergi perlahan seiring bulir air mengalir dari sudut netra.

“Maafkan aku, Lintang. Tidak seharusnya aku menyakitmu terlalu dalam. Memang aku yang bersalah telah mengkhianatimu,” ujarku lirih.

Surabaya, 10 April 2019

#goresantanganVon

Pic from: Google

Comments

Popular posts from this blog

Lukisan Wanita Terpasung

Langit kelam mulai memudar, arunika mulai menampakkan sinarnya. Liani segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebentar lagi, Elang pasti akan menjemputnya. Elang tak suka menanti lama, bisa-bisa dia marah sepanjang perjalanan ke sekolah. Kasihan telingaku mendengar orang mengomel berkepanjangan apalagi di pagi hari. Elang adalah teman sejak kecil. Rumah kami sebenarnya berjarak lima blok saja, tak jauh. Kami selalu bersama di mana pun kami berada bahkan banyak yang mengira kami berpacaran. Itu karena mereka taktahu persahabatan kami. Dalam hati Elang ada seseorang yang dia sukai demikian juga denganku. “An, sudah siap belum?” tanya Mama padaku. Aku pun tahu, pasti Elang sudah datang. “Sebentar, Ma. Emang Elang sudah datang ya?” “Cepetan, An. Nanti jalanan tambah macet. Kamu kalau dandan lama sekali sih, An,” gerutu Elang. “Dandan. Dandan. Ngapain ke sekolah pakai dandan segala. Emang nanti kalau jadian apa kamu nggak   bakal mau nunggu Ria dandan?” “Ya, itu lain cerita lagi...

Secret Admire

Pagi nan cerah, mentari memperlihatkan sinar yang menghangatkan butala di antara mega-mega putih di langit biru. Kicau burung bersahutan—bagai nyanyian nan merdu di telinga—menyambut hari baru. Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ah, aku kangen dengan Mama yang biasanya selalu berteriak memanggil aku untuk sarapan bersama Papa. Orang tuaku sedang berada di luar negeri, biasa urusan perusahaan Papa. Mama memang membantu usaha Papa. Aku anak tunggal dan benar-benar kesepian bila mereka pergi seperti ini, hanya ditemani Bik Tun, orang yang mengasuhku sejak kecil. “Bik, Arum pergi dulu!” teriakku sambi berjalan menuju mobil. Namun, niat itu aku urungkan saat melihat sesuatu yang diletakkan di depan pagar. Aku segera berjalan mendekati pagar dan aku melihat ada seikat bunga. “Siapa yang taruh di sini?” tanyaku dalam hati. Kemudian aku melihat ada surat dan tertulis dengan huruf besar namaku, Arum. Dengan segera aku membuka amplop tersebut. Tatapan Elang. Siapa dia...

Senja di Denpasar

Gurat lembayung mulai menghilang bersama datangnya gelita itu sungguh elok. Angin berhembus lembut membelai rambutku yang panjang membuat ketenangan dalam kalbu. Suara debur ombak yang berlomba ke tepian terdengar bagai nyanyian indah di kesunyian. Pantai, tempat yang paling aku suka. Entah kenapa saat hati dan pikiran ini kacau bagai benang ruwet, pantai adalah tujuanku untuk menenangkan diri. Namaku Ardyalalita dan sering dipanggil Lita. Aku memilih tetap tinggal di kota ini dan tidak mengikuti orang tuaku yang pindah ke Jakarta. Bagiku, Denpasar merupakan kota yang banyak memberi kenangan. Aku lahir di kota ini dan sempat ditaruh di panti asuhan oleh ibu kandungku. Dari cerita Oma, mama mengalami masa sulit di saat hamil. Orang yang seharusnya kusebut dengan papa tidak mau bertangggung jawab hingga kini aku tak tahu keberadaannya. Karena tidak mau membuat orang tuanya malu maka mama pergi dari rumah tanpa pamit dan menanggung sendiri semuanya hingga bertemu dengan papa Dwi. Papa Dwi...